"Makanya, kami selalu percaya bahwa di balik warna dan motif yang tertuang di kain tenun Sikka ini, ada banyak doa yang dipanjatkan para pengrajin," sambungnya.
Dari situ, lanjut Ellen, sudah semestinya publik, khususnya orang-orang yang mencintai wastra Nusantara bisa lebih menghargai kain tenun Sikka. Sebab, dari sehelai kain yang begitu indah ternyata ada banyak tragedi yang terjadi.
"Satu helai kain itu dibuat begitu lama. Ada yang 3 bulan, karena benang yang dipakai dibuat dari memintal sendiri, lalu warna dibuat dari bahan alami, hingga proses penempatan motif juga tidak bisa sembarangan," tambah Tasya Widya Krisnadi selaku Direktur Pendopo.
(Helmi Ade Saputra)