"Selain itu, si anak juga takut kalau dirinya akan disalahkan orangtuanya atas apa yang terjadi. Jadi, (biasanya) anak-anak memilih diam," sambungnya lagi.
Sinyal selanjutnya yang bisa dilihat adalah anak bisa tiba-tiba ogah sekolah, bahkan tidak mau bermain dengan teman, atau punya banyak alasan saat diajak keluar rumah.
Sementara jika dilihat secara fisik, khususnya pada anak balita, dr. Eva menerangkan orangtua bisa lihat dari ketika anak buang air kecil atau buang air besar dan mengeluh kesakitan.
"Kalau ini yang terjadi, jangan ragu bawa anak ke dokter untuk mencari tahu penyebab gangguan buang air kecil atau besar itu. Umumnya, jika mengarah ke akibat kekerasan seksual, dokter akan bekerja sama dengan psikolog," terang dokter yang juga Ketua Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tersebut.
Menambahkan dr. Eva, Psikolog Anak Karina Istifarisny mengungkap ada beberapa sinyal lain yang bisa jadi pertanda bahwa anak menjadi korban kekerasan seksual.
“Anak mungkin lebih sering pegang alat kelaminnya, minta orang lain pegang genitalnya, suka pegang alat kelamin orang lain, atau suka melakukan permainan berkaitan dengan seks yang tidak biasa," pungkas Karina
(Rizky Pradita Ananda)