Erupsi hingga Lontarkan Abu 900 Meter, Begini Asal Usul Nama Gunung Kerinci

Prisca Arianto, Jurnalis
Kamis 12 Januari 2023 11:03 WIB
Gunung Kerinci di perbatasan Jambi dan Solok Selatan (Foto: Instagram/@IHCANvanJAVA)
Share :

SALAH satu gunung yang cukup terkenal dan memiliki keindahan yang luar biasa di Indonesia adalah Gunung Kerinci. Terletak di Provinsi Jambi, tepatnya Kabupaten Kerinci, Jambi, Kerinci memiliki ketinggian 3.805 mdpl atau yang paling tinggi di Indonesia jika tidak dimasukkan ‘Puncak Jayawijaya’ di Papua, bahkan juga gunung api paling tinggi di Asia Tenggara.

Gunung Kerinci adalah salah satu gunung yang tergabung dalam barisan pegunungan Bukit Barisan.Gunung yang satu ini memiliki puncak yang cukup tinggi sehingga membuat Anda bisa melihat langsung panorama kota Jambi, Padang, Bengkulu, dan hamparan samudra.

Meskipun jalur pendakiannya cukup sulit untuk ditaklukkan, namun masih banyak pendaki-pendaki berpengalaman maupun yang masih baru menargetkan gunung satu ini.

Namun, tahukah Anda asal usul nama gunung Kerinci? Berikut asal usul nama Gunung Kerinci sebagaimana yang dirangkum Okezone.

Melansir dari laman pendaki.com, Asal mula nama Kerinci sendiri masih diperdebatkan. Ada yang mengatakan, kata Kerinci datang dari bahasa Tamil, 'kurinji' yakni semacam nama bunga yang hanya berada di dataran tinggi.

BACA JUGA: Legenda Cindaku, Manusia Harimau Sakti Penjaga Hutan Kerinci

Tapi, ada pula yang mengatakan nama Kerinci berawal dari kata kering dan cair, dikarenakan kadang diperkiraan cuaca tidak pas, karena curahan hujan tidak teratur.

Di cerita lain, ada juga yang menyebutkan bahwa kata Kerinci berasal dari kata ci-ci, yang maknanya anak 'kunci'. Dalam riwayat Tiang Bungkuk Panduko Rajo dari China, kunci ini sebagai pembuka rahasia Kerinci. Anak kunci ini raib di daerah sekitar danau. Benar atau tidaknya selama ini belum ada penjelasan.

Sedangkan menurut cerita rakyat, asal usul nama Kerinci pertama kali berasal dari hiduplah dua orang saudara kembar bernama Calupat, dan Calungga. Mereka sudah tidak memiliki ayah dan ibu.

Kedua yatim piatu ini hidup dari sasaran makanan di hutan dan mengasingkan diri dari masyarakat sekitar. Kedua kakak kembar beradik ini memiliki pusaka peninggalan orangtuanya berupa buah delima dan batu putih.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya