Dayang Sumbi kemudian menjelaskan bahwa ia sesungguhnya adalah ibu kandung dari Sangkuriang. Oleh karena itu dia tidak bersedia menikah dengan anak kandungnya tersebut.
Namun, Sangkuriang yang telah dibutakan oleh hawa nafsu tidak mempedulikan penjelasan Dayang Sumbi, dia tetap bersikukuh akan menikahi Dayang Sumbi. Alhasil, Dayang Sumbi memberi syarat berat kepada Sangkuriang jika memang ngotot ingin menikahinya. Salah satunya ialah Sangkuriang harus membuatkan perahu berukuran besar dan danau.
Di mana pekerjaan tersebut harus rampung dalam waktu satu malam. Misi yang sangat mustahil untuk dilakukan oleh orang awam. Singkat cerita, saat Sangkuriang nyaris menyelesaikan pekerjaannya, Dayang Sumbi tak kehabisan akal. Ia pun menggelar kain-kain hasil tenunannya di ufuk timur seraya berdoa agar usaha Sangkuriang gagal total.
Doanya pun dikabulkan, kain-kain tenunannya tersebut secara ajaib memancarkan cahaya kemerahan di ufuk timur, seakan fajar telah menyingsing. Ayam-ayam jantan pun mulai berkokok penanda waktu pagi tiba.
Sangkuriang yang panik dan sadar usahanya akan gagal kemudian menendang perahu besar yang telah dibuatnya hingga terlempar jauh dan jatuh tertelungkup. Menjelmalah perahu besar itu menjadi sebuah gunung yang kini dinamakan Gunung Tangkuban Perahu.
(Rizka Diputra)