Saat itu, Zhu memposting tautan dan tangkapan layar dari situs web Oxford yang membuktikan bahwa dia adalah seorang pelajar. Dia juga membagikan email tutornya yang memberi selamat padanya karena telah mencapai skor tertinggi di perkuliahannya.
Ketika seorang pengguna internet yang mengaku sebagai dosen matematika universitas menantangnya untuk memecahkan masalah matematika, dia pun tidak ragu, dan dia menyelesaikan masalah tersebut dalam satu jam.
Namun, ini tidak cukup untuk memuaskan beberapa pengkritiknya. “Bahkan jika kamu memiliki gelar dari universitas ternama, tidak bisakah kamu bersikap rendah hati?” tutur netizen lain.
Meski demikian, semakin banyak orang yang memberikan dukungan mereka kepada Zhu.
“Zhu sangat brilian. Dia diinterogasi dan menjadi sorotan hanya karena dia terlalu luar biasa. Saya senang melihat dia memiliki pola pikir yang baik, dan terus menjadi dirinya sendiri dan melakukan apa yang dia sukai,” tulis netizen itu memberi semangat.
“Budaya Asia Timur selalu menuntut wanita untuk tidak menonjolkan diri. Tapi era ini membutuhkan lebih banyak cerita seperti Zhu untuk menginspirasi para gadis untuk menjadi diri mereka sendiri,” tulis netizen lainnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)