Hal ini selaras dengan laporan Seoul Welfare Foundation, yang menunjukkan bahwa 52 persen kematian godoksa ini terjadi di area ‘miskin’, apartemen dengan harga sewa rendah. Laporan yang sama menunjukkan bahwa 95 persen orang yang meninggal karena kesepian adalah pengangguran.
Fenomena godoksa ini disebutkan serupa dengan "Kodokushi", atau "mati sendirian", yang banyak terjadi di Jepang. Pejabat pemerintah di sana juga mengaitkan peningkatan kematian akibat kesepian ini, dengan populasi yang menua (lebih banyak orang tua dibandingkan generasi muda) dan meningkatnya isolasi sosial terhadap orang tua. Begitu pun di Hong Kong, di mana semakin banyak lansia yang hidup terisolasi, kematian karena kesepian juga diperkirakan akan meningkat.
Beberapa pihak menyakini, kemajuan teknologi bisa jadi salah satu solusi untuk membantu mengurangi jumlah kematian kesepian ini. Contohnya yang digunakan di Korea yakni smart plug device atau “perangkat steker pintar” yang bisa mendeteksi jika listrik di rumah tidak digunakan selama jangka waktu tertentu, atau jika pencahayaan di ruangan tetap konsisten untuk waktu yang tidak biasa.
Kabarnya kini disebutkan, pemerintah juga sedang mencari cara untuk menggunakan teknologi AI dengan cara yang sama, sebagai salah satu solusi menekan laju angka kematian kesepian di antara para penduduknya tersebut.
BACA JUGA:Studi: Dapat Lebih Banyak Waktu untuk Tidur, Tingkatkan Kebahagiaan dalam Hidup
BACA JUGA:Studi: Orang yang Bangun Pakai Alarm Cenderung Alami Kelelahan Kronis
(Rizky Pradita Ananda)