Menurut sebuah laporan oleh Choi Soo-beom, seorang peneliti di Institut Teknologi Seoul, jumlah kasus yang secara resmi diklasifikasikan sebagai kematian akibat kesepian di Seoul, pada tahun 2021 mengalai peningkata dari 51 pada tahun 2020 menjadi 76 pada tahun 2021. Di antara 127 kematian dalam dua tahun itu, 76,4 persen adalah pria yang hidup sendiri, sebagian besar berusia 50-an dan 60-an.
Song In-joo, peneliti senior di Seoul Welfare Foundation mencoba mengumpulkan data terkait lonely death di Seoul ini. Disebutkan total 978 kematian orang yang berisiko lebih tinggi meninggal sendirian di Seoul. Dari jumlah tersebut, 65,8 persen (644) adalah laki-laki, sedangkan 34,2 persen atau sekira 334 nya adalah perempuan.
Berdasarkan usia, orang berusia 60-an menyumbang 29,1 persen (265), diikuti oleh orang berusia 50-an dengan 19,3 persen dan 70-an dengan 19 persen dan 95,4 persen, atau 933 orang tak memiliki pekerjaan.
Terjadinya perubahan mendadak dalam hidup para pria paruh baya, yang dipicu berbagai faktor dinilai Song In-joo, jadi dalang atas fenomena Godoksa di salah satu negara maju di Asia Timur tersebut.
“Pria paruh baya yang meninggal sendirian telah dipaksa melakukan penggusuran, mengalami kondisi kerja yang buruk dan mengalami pensiun mendadak, yang menyebabkan perubahan tiba-tiba dalam kehidupan sehari-harinya, dan menjadi kelompok risiko kematian yang kesepian,” ujar Song In-joo, dikutip dari Korea Joongang Daily.