Jalur itu terbentang sepanjang enam kilometer yang melewati tujuh stasiun dengan jarak tempuh 14 menit.
Dengan membayar tarif 320 yen (Rp38.000), pengunjung dapat menikmati sensasi naik kereta layang sembari melihat pemandangan dari ketinggian.
Saat ini, banyak wisatawan terlihat kembali mengunjungi Kota Kamakura yang sempat mati suri akibat pandemi Covid-19.
Albarnossi, yang membuka usaha kebab selama 35 tahun di Kamakura, juga mengaku mengalami masa-masa sulit saat pandemi sebab kota tersebut mengandalkan pariwisata.
“Sangat sulit karena kota ini bergantung pada pariwisata dan peziarah. Tidak ada yang datang selama pandemi,” ujar pria asal Maroko itu.
Namun, dia menambahkan sejak November kondisi mulai membaik, wisatawan lokal dan mancanegara kembali berdatangan, terutama sejak pemerintah Jepang mencabut pembatasan perjalanan pada 11 Oktober lalu.
Wisatawan asal Indonesia Auzi Amazia yang baru saja melancong ke Jepang mengaku saat ini persyaratan sudah semakin longgar, yang penting sudah menerima dua dosis vaksin Covid-19 dan satu dosis penguat (booster).
“Menurutku, ini memang saatnya orang-orang harus bisa hidup di situasi Covid ini, hidup dengan Covid. Di Jepang, orang-orang tetap pakai masker dan aku ikuti saja. Kewajiban itu enggak terlalu banyak berpengaruh ke perjalanan dan menikmati traveling-nya,” katanya.
(Rizka Diputra)