Kepala Balai TNDS, Gunawan, mengatakan, dalam beberapa tahun belakangan pihaknya menerapkan konsep masyarakat diutamakan baru pelestarian.
Masyarakat diutamakan dalam kerangka untuk berdaya, karena dengan berdaya otomatis bisa menjadi bagian atau pejuang pelestarian. Beberapa pendekatan dilakukan oleh pihak TNDS melalui sejumlah program dan aksi sederhana. Al hasil, kini mulai perlahan membuahkan hasil.
Dalam TNDS terdapat delapan ekosistem flora dengan jumlah 675 flora dan 154 spesies anggrek. Untuk fauna atau satwa terdapat mamalia 147 jenis, 310 jenis burung, 266 ikan dan 31 jenis herpetofauna.
(Foto: Dok. Pribadi/Uji Astrono)
TNDS identik dengan arwana super red, anggrek, bekantan, burung enggang dan termasuk langur borneo. Untuk produksi madu hutan mencapai 15-30 ton per-tahun, dengan nilai mencapai Rp1,5 - 4,5 miliar per tahun dan nilai ekonomi ikan yang ditangkap oleh masyarakat mencapai Rp15,5 miliar per tahun.
Dalam pengawasan TNDS, pihak pengelola saat patroli sebelumnya menggunakan seragam sebagai polisi hutan. Hal itu membuat kesan dan citra masyarakat menjadi objek yang selalu diawasi. Hal itu diubah. Petugas saat patroli menggunakan tidak menggunakan pakaian seragam. Petugas juga dituntut bergaul dan membaur di tengah masyarakat.
"Terbukti kiat tersebut manjur dan pesan program pelestarian mulai dilirik masyarakat dan bahkan bagian untuk bersama mengawasi agar ekosistem tersebut terjaga," ujar Gunawan, mengutip Antara.
(Rizka Diputra)