Pejabat negara dan penduduk Bhutan ingin memastikan lingkungan mereka masih asli atau lebih baik dari sekarang. Diketahui dalam 10 tahun terakhir, Tshering melihat degradasinya jadi perlu perhatian lebih untuk melestarikan apa yang Bhutan miliki.
“Dalam beberapa tahun terakhir, kami mulai mengalami sedikit efek samping dari pariwisata massal. Kami tidak ingin menggunakan pariwisata untuk menghasilkan pendapatan dalam bentuk apapun,” imbuh Tshering.
(Foto: Instagram/@drukasia)
Rencana Bhutan sederhana, di antaranya nilai tinggi dan volume rendah. Menciptakan sistem pariwisata yang hanya menarik bagi sebagian orang. Pemerintah Bhutan juga tidak meragukan tempat-tempat terkenal yang dikunjungi turis, seperti Amsterdam, Barcelona, Kyoto, Venesia, dan Bali.
Keistimewaan Bhutan yang menjadi negara pertama melakukan secara terang-terangan untuk melindungi diri dari dunia yang lebih luas dengan menetapkan harga.
Namun, kembali lagi kepada setiap turis yang ingin berkunjung karena mereka memiliki keputusannya masing-masing entah liburan mengutamakan kenyamanan dan asri jadi tak masalah berkunjung ke Bhutan.
(Rizka Diputra)