Dengan senang hati Tshering menjawab; “Saya di sini bukan untuk menjual Bhutan. Saya di sini hanya untuk memberi tahu Anda siapa kami. Kami tahu apa yang kami inginkan. Kami tahu apa yang dapat kami tawarkan, kami memiliki jalur yang jelas tentang bagaimana kami harus melestarikan negara kami,”.
Pariwisata di Bhutan dilakukan dengan cara yang hampir tidak dilakukan oleh negara lain. Mereka tidak mengutamakan untuk menghasilkan uang dari turis, terlepas dari biaya pembangunan berkelanjutan yang besar dan kuat, dan terlepas dari fakta jika Bhutan masih dianggap negara berkembang.
"Kami tidak akan mengandalkan pariwisata sebagai cara untuk menghasilkan pendapatan bagi negara. Itu sama sekali tidak benar. Setiap pendapatan (dari biaya keberlanjutan) akan diinvestasikan kembali dalam produk pariwisata 100 persen jika tidak lebih. Jadi, satu wisatawan akan dibelanjakan, pelancong berikutnya mendapat manfaat," pungkasnya.
(Foto: iStock)
Penuturan Tshering, fakta Bhutan jika mereka benar-benar tidak menginginkan turis atau tidak mengharapkan banyak turis datang ke negaranya. Mungkin Anda tertarik datang ke Bhutan, tentu Anda akan disambut dan diperlakukan dengan baik. Tetapi, Anda harus membayar banyak uang untuk hak istimewa itu.
Mereka berusaha melestarikan Bhutan sebagaimana adanya, upaya melestarikan lingkungannya sehingga negara ini disebut satu dari hanya dua negara yang menyatakan dirinya negatif karbon serta melestarikan budayanya.
"Budaya kami sangat sensitif dan sangat istimewa. Kami ingin tetap seperti ini dan menyebarkannya ke generasi berikutnya. Kami tdiak ingin menghalangi pengunjung untuk mearasakan apa yang kami alami, tapi ya, itulah salah satu alasan di balik (biaya baru) aturan," lanjut Tshering.