Ia melanjutkan, bentuk-bentuk yang terdapat pada motif parang menyimpan kode rahasia alam semesta yang sangat tinggi tingkatannya, hingga di zaman itu hanya orang yang waskita saja yang tahu maknanya.
Simbol-simbol tersembunyi dengan sangat rapatnya. Misalnya, diketahui kemudian bahwa di dalam motif parang tersembunyi simbol burung rajawali yang tidak bakal bisa terlihat oleh mata orang awam.
"Dari buku 'Batik-Filosofi, Motif & Kegunaan' yang disusun oleh Adi Kusrianto (2013), dijelaskan bagaimana objek rajawali didekonstruksi sedemikian rupa, menjadi bentuk dengan stilisasi tingkat tinggi," kata Agnes.
Ada bagian kepala burung yang didekonstruksi menjadi bagian motif yang disebut 'uceng' yang bermakna alam pikiran seorang raja atau pemimpin; bagian paruh yang beralih bentuk menjadi lidah api, menggambarkan kemampuan seorang raja yang memiliki 'sabdo dadi' (apapun yang diucapkan akan terjadi); bagian badan yang melukiskan kekuatan fisik, dan lain sebagainya.
"Ya, burung dijadikan simbol tahta tertinggi di banyak kebudayaan di belahan Bumi manapun. Dan burung Rajawali atau Garuda adalah makhluk Bumi yang bisa terbang mendekati langit atau surga. Burung rajawali juga merupakan simbol 'Wong Agung' atau manusia di atas rata-rata," kata Agnes.
"Hal unik dan khas dari Parang justru karena mata awam tidak bisa melihat bentuk burung tersebut. Ini tentunya sejalan dengan falsafah Jawa yang mengedepankan aspek rasa dan kepantasan, yang mana keunggulan diri tidak boleh dipamerkan. Semakin tinggi kedudukan dan ilmu seseorang, semakin halus dan berkias bahasanya," sambungnya.
"Karena segala keutamaannya, motif Parang kata orang Jawa bilang 'Abot sanggane' atau berat tanggung jawabnya, sehingga tidak bisa sembarang orang mengenakannya," ujar Agnes.
Jadi, diibaratkan orang awam yang tidak pernah merasakan tirakat dan alam pikirannya berada dalam keheningan, mereka tidak akan mampu mengemban tanggung jawab kepada masyarakat yang berada di bawahnya.
(Helmi Ade Saputra)