Jejak Perabadan Melayu di Rumah Tua Desa Berakit dan Kisah Heroik Juragan Vs Perampok

Antara, Jurnalis
Kamis 27 Oktober 2022 01:20 WIB
Rumah Melayu di Desa Berakit, Bintan, Kepulauan Riau (ANTARA/Nikolas Panama)
Share :

HUJAN deras menyapa rumah panggung di ujung Desa Berakit, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Seorang pria paruh baya terbangun dari lelap, ketika angin kencang membawa percikan air dari pintu dan celah jendela rumahnya.

Ali Wardana, pria yang tinggal di sebuah rumah panggung yang dibangun pada 1908 itu, segera menutup pintu dan jendela, kemudian duduk di lantai papan yang diselimuti karpet plastik berwarna cokelat.

Ia sudah tinggal di rumah panggung itu sejak lahir sekitar 40 tahun lalu, dan tidak pernah sekalipun mendapati ada kerusakan serius pada rumah yang usianya, bahkan sudah lebih dari 2,5 kali lipat umur Ali.

Di halaman rumah bernomor 45 itu, puluhan pohon kelapa seolah menari diayun angin kencang yang sedari pagi tidak berhenti. Pohon-pohon itu juga unik lantaran menjadi bagian dari sejarah semakin menuanya bangunan itu. Bahkan, ada pohon yang seusia dengan rumah panggung tersebut.

 BACA JUGA:Mantap! Jelang World Superbike 2022, Masyarakat Lombok Gencar Promosikan Wisata NTB

Ali Wardana, satu-satunya pria yang tinggal di rumah itu menemani ibu dan adik perempuannya. Hingga rumah berwarna kuning muda itu menjadi saksi bisu kisah perjalanan hidup Ali bersama Rahimah (65) dan Rudini (15).

"Saye (saya) betah tinggal di rumah ini," ucap pria berambut panjang itu seperti dilansir ANTARA, Rabu (26/10/2022).

Ali yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan tradisional, melaut tidak hanya menangkap ikan, melainkan cumi. Merawat rumah panggung seperti itu seperti memelihara rumah sendiri.

Benar, bahwa rumah itu bukan milik pribadinya. Ali juga bukanlah pewaris, namun ia dan keluarganya telah bertekad menjadi pelestari rumah yang menjadi simbol budaya masyarakat setempat.

 

Ada masa ketika ia harus melakukan renovasi kecil pada beberapa bagian rumah panggung penuh sejarah itu, misalnya pada 2010 ia sempat harus mengganti atap rumah yang lapuk tanpa mengubah bentuk.

Ia dan keluarganya juga memperbarui cat pada dinding rumah itu yang mulai usang dengan warna yang sama, kuning gading.

Ibu dan adiknya pun punya pemikiran yang sama untuk melestarikan rumah itu sampai akhir hayat agar generasi muda tetap bisa menggali sejarah peradaban Melayu di rumah tua yang mereka tinggali.

Sering dikunjungi

Siapapun yang berkunjung ke Desa Berakit akan sangat mudah untuk menemukan rumah panggung tersebut. Meskipun sekilas tidak ada yang istimewa dari rumah papan itu pada kesan pertama siapa saja yang melihat.

 BACA JUGA:Dorong Desa Wisata Mandiri, Kemenparekraf Gelar Pelatihan bagi Pelaku Pariwisata di Kawasan BYP

Namun sejak awal September 2022, Ali jadi kerap menerima tamu. Mereka yang datang sebagian besar petugas berasal dari pemerintahan di Kabupaten Bintan dan Kepulauan Riau.

Pernah peniliti dari kampus dan jurnalis dari berbagai media massa ternama juga silih berganti mewawancarainya. Pertanyaan yang disampaikan berhubungan dengan rumah yang dihuninya itu.

Rumah dengan lebar 7 meter dan panjang 12 meter itu merupakan peninggalan dari kakek buyutnya. Namun rumah yang memiliki enam ruangan dan 66 tiang pondasi itu tidak diwariskan kepada keturunan pria, melainkan kepada Hasnawati, bibinya yang sejak dulu tinggal di Jakarta.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya