KEPALA Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI), Penny K Lukito membeberkan beberapa pengawasan yang dilakukan oleh pihaknya selama ini dalam memantau peredaran berbagai jenis obat-obatan di industri farmasi.
Hal ini menyusul beberapa anggapan yang menilai bahwa BPOM disebut ‘kecolongan’ karena maraknya kasus gagal ginjal akut anak yang terjadi belakangan ini.
“Saya kira itu ketentuan yang sudah ada ya. Quality control dari bahan baku yang ada di industri farmasi juga harus ada terutama tanggung jawab tersebut di industrinya masing-masing. Dan BPOM nanti memverifikasi, bukan berarti diserahkan begitu saja,” ujar Penny.
Penny juga menyebut, bahwa BPOM juga telah melakukan pengawasan secara intensif dari sisi pre-market, seperti pengawasan pada saat pendaftaran, hingga pemberian submission dari dokumen-dokumen yang ada.
Sehingga, ia menilai, bahwa sangat berisiko bagi perusahaan-perusahaan jika ingin bermain ‘nakal’ di tengah pengawasan ketat yang telah diterapkan oleh BPOM.
“Kami tentunya melakukan pencermatan dengan pengalaman yang sudah dilakukan oleh BPOM selama ini, tentunya kami sudah mempunyai data base yang lengkap, punya pengetahuan yang mendalam dikaitkan dengan suatu perusahaan yang punya rekam jejaknya, kemudian dengan data-data yang diberikan,” tuturnya.
“Kemudian kami tentu juga melakukan analisa dan pengujian berbasiskan resiko, Jadi melakukan random pengujian juga. Dan itu saya kira akan menjadi resiko yang besar untuk ditemukan oleh BPOM apabila suatu perusahaan melakukan kecurangan,” lanjutnya.
Meski begitu, Penny tak memungkiri, BPOM akan kembali meningkatkan dan memperketat pengawasan dari sisi pos market. Dimana, nantinya pihaknya akan lebih jeli melakukan verifikasi juga terhadap data-data yang diberikan oleh industri farmasi.
“Mengingat bahwa di Indonesia ini perbedaan kapasitas dari industri dengan quality control yang baik tentunya bervariasi. Nah, itu menjadi pertimbangan kami dengan situasi yang kita hadapi ini bahwa kita akan lebih memperketat pre market dan juga ke depannya adalah post market, pengawasan terhadap obat jadinya juga akan kita lakukan secara berbasiskan resiko,” tegasnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)