JAKARTA – Beberapa hari belakangan ini, isu seputar gangguan ginjal akut misterius pada anak mendominasi pemberitaan di berbagai media massa nasional. Kasus gangguan ginjal akut pada anak ini, pertama kali terdeteksi di Gambia, Afrika. Saat itu, sebagian besar di antara kita masih kurang peduli bahkan bersikap cuek, merasa tenang-tenang saja, karena tempat kejadian perkara terasa jauh dari negeri kita, Indonesia.
Namun, pada Selasa 18 Oktober 2022, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) melaporkan bahwa gangguan ginjal akut misterius pada anak juga telah terjadi di Indonesia dan tercatat sudah ada 206 kasus. Dari ratusan kasus itu, 99 anak di antaranya dinyatakan meninggal dunia karena mengalami gagal ginjal akut. “Jumlah kasus tersebut diambil dari 20 provinsi di Indonesia,” ujar Juru Bicara Kemenkes RI Mohammad Syahril.
Data ini sontak membuat masyarakat dan berbagai pihak pemerhati kesehatan masyarakat dan juga perlindungan anak pun khawatir. Seperti diungkap Kepala Divisi Monitoring Evaluasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra, “Pemerintah harus segera mengungkap penyebab gagal ginjal akut yang diidap anak-anak di Indonesia.” Jasra Putra menegaskan, “KPAI berharap korban yang sudah berada diangka 200 lebih, dapat segera membuat terang benderang kasus, agar semua penyebabnya dapat segera disampaikan para pihak yang berwenang. Karena situasi sudah setahun dan belum mendapatkan titik terang penyebabnya, sehingga korban terus berjatuhan," ujar Jasra Putra kepada Okezone, Kamis (20/10/2022).
Bagaimana Gejala Gangguan Ginjal Akut Misterius Pada Anak?
Sebelum membahas lebih jauh seputar keprihatinan beberapa institusi kesehatan tentang isu gangguan ginjal akut misterius pada anak, mari kita pahami lebih dulu apa saja sih, gejala dari gangguan kesehatan ini?
Kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak di Indonesia, hingga hari ini masih terus bertambah. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
melaporkan, adanya penambahan kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak di Indonesia. Data terbaru disebutkan, ada 192 kasus yang tersebar di 20 provinsi di Tanah Air sejak awal tahun 2022.
"Data yang dilaporkan ke kami sudah terkumpul 192 kasus dari 20 Provinsi. Laporan ini kumulatif dari Januari sampai sore ini," kata Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso dalam acara daring, Jakarta, Selasa (18/10/2022).
Berdasarkan data yang dikantongi IDAI, kasus gangguan ginjal akut atau acute kidney injury, paling banyak tersebar di DKI Jakarta. Disusul Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Barat dan kota-kota besar lainnya.
"Paling banyak itu di DKI 50 kasus, kemudian di 24 kasus Jawa Barat, kemudian di Jawa Timur 24 kasus, di Sumatera Barat 21 kasus, Aceh 18 kasus, dan Bali 17 kasus. Sedangkan provinsi lainnya berkisar antara 1-2 kasus," papar Piprim.
Penderita masih didominasi oleh bayi di bawah usia lima tahun (balita), dimana pasien sebagian besar balita.
Adapun rincian temuan kasus tersebut, dua kasus di Januari, dua kasus di bulan Maret, enam kasus pada bulan Mei, tiga kasus pada Juni, sembilan kasus di bulan Juli, 37 kasus di bulan Agustus, dan 81 kasus di bulan September.
Kenali Gangguan Ginjal Akut pada Anak
Ini saatnya Anda sebagai orangtua wajib paham gejala awal gangguan ginjal akut pada anak. Salah satu gejalanya, terpantau dari intensitas dan volume air seni si kecil. “Gejala awal yang wajib dicermati adalah jika anak Anda mengalami masalah buang air kecil, misalnya tak pipis seharian atau air seninya hanya sedikit,” ungkap Yanti Herman, Plt Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
"Kalau si anak air kencingnya sedikit atau bahkan sama sekali enggak pipis, maka orangtua harus bawa anaknya ke rumah sakit," ujar Yanti Herman, dalam konferensi pers virtual.
Gejala tersebut, sambung Yanti, bisa jadi salah satu indikator anak punya masalah di dalam tubuhnya dan ada kemungkinan si anak mengalami gangguan ginjal akut.
Para orangtua juga harus memahami 7 gejala dari gangguan ginjal akut misterius ini. Apa saja?
1. Anak demam
2. Diare atau muntah
3. Pilek atau batuk
Kemudian gejala lanjutan dari gangguan ginjal akut misterius pada anak terdapat empat kondisi, antara lain,
4. Jumlah urin dan frekuensi buang air kecil (BAK) berkurang
5. Badan anak membengkak
6. Anak kehilangan kesadaran atau mengalami penurunan kesadaran
7. Anak mengalami sesak napas
Jika anak mengalami hal tersebut, maka segera larikan ke dokter untuk mendapat bantuan medis.
Obat Sirup Parasetamol Penyebab Gangguan Ginjal Akut pada Anak?
Tak lama setelah kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak ini merebak, WHO menyatakan penyebab kematian sekitar 70 anak di Gambia lantaran mengonsumsi empat merek obat batuk buatan India.
WHO mengatakan anak-anak itu meninggal karena cedera ginjal. Dikatakan, ada bahan-bahan yang tidak dapat diterima pada sirup parasetamol yang dibuat oleh Maiden Pharmaceuticals.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menghubungi regulator obat nasional India pada 29 September lalu untuk memulai penyelidikan. Hasilnya, “Kami meminta WHO membagikan laporan yang menetapkan] hubungan sebab kematian dengan produk medis yang bersangkutan," demikian pernyataan resmi regulator obat India dikutip dari BBC, Senin (10/10/2022).
Analisis laboratorium WHO mengkonfirmasi temuan dietilen glikol dan etilen glikol yang 'tidak dapat diterima' terkandung dalam obat batuk tersebut. Kandungan bahan itu bisa menyebabkan gagal ginjal akut.
WHO menyatakan zat-zat itu beracun bagi manusia dan bisa berakibat fatal. Efek racunnya dapat mencakup sakit perut, muntah, diare, ketidakmampuan untuk buang air kecil, sakit kepala, perubahan kondisi mental dan cedera ginjal akut yang dapat menyebabkan kematian.
Sejalan dengan temuan tersebut, maka Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menginstruksikan semua apotek agar tidak menjual obat bebas ataupun obat bebas terbatas dalam bentuk cair untuk sementara waktu.
Instruksi ini menyusul merebaknya kasus gangguan ginjal akut misterius atau gangguan ginjal akut progresif atipikal yang menyerang anak-anak, umumnya balita. Instruksi itu tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor SR.01.05/III/3461/2022 tentang Kewajiban Penyelidikan Epidemiologi dan Pelaporan Kasus Gangguan Ginjal Akut Atipikal (Atypical Progressive Acute Kidney Injury) pada Anak. "Seluruh apotek untuk sementara tidak menjual obat bebas dan/atau bebas terbatas dalam bentuk syrup kepada masyarakat sampai dilakukan pengumuman resmi dari Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," jelas instruksi tersebut, dikutip Okezone.com, Rabu (19/10/2022).
Instruksi yang ditandatangani oleh Plt Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Murti Utami itu juga meminta agar para nakes tidak meresepkan obat dalam bentuk cair untuk sementara waktu. "Tenaga Kesehatan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan untuk sementara tidak meresepkan obat-obatan dalam bentuk sediaan cair/syrup sampai dilakukan pengumuman resmi dari Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," papar instruksi tersebut, dikutip Okezone.com, Rabu (19/10/2022).
Badan Pengawas Obat dan Makanan, Badan POM RI diketahui telah merilis keterangan resmi terkait merek obat sirup yang terkontaminasi dua zat berbahaya, dietilen glikol (DG) dan etilen glikol (EG).
Hal ini sebagai salah satu upaya tindak lanjut dan menjawab kebingungan masyarakat, terutama para orangtua, dengan tren kasus gangguan ginjal akut yang tengah melanda kurang lebih 206 anak di Indonesia saat ini.
Berikut empat nama obat sirup yang disebutkan terkontaminasi kandungan dietilen glikol (DG) dan etilen glikol (EG), sesuai keterangan resmi dari Badan POM Indonesia. Nama empat obat sirup yang disebutkan, antara lain adalah:
1. Promethazine Oral Solution,
2. Kofexmalin Baby Cough Syrup,
3. Makoff Baby Cough Syrup,
4. Magrip N Cold Syrup
"Keempat produk tersebut diproduksi oleh Maiden Pharmaceuticals Limited, India," tulis Badan POM dalam laman resminya, dikutip Okezone Rabu (19/10/2022). Namun masyarakat diimbau untuk tidak buru-buru panik, sebab Badan POM memastikan keempat produk tersebut tidak terdaftar di Badan POM, sehingga dipastikan tidak ada produknya di Indonesia.
Saat Tepat Umumkan KLB
Menanggapi maraknya kasus gangguan ginjal akut pada anak serta himbauan setop konsumsi obat sirup yang dicurigai mengandung bahan Dietilen Glikol (DG) serta Etilen Glikol (EG), oleh Kemenkes RI. Maka menurut kami, Redaksi Okezone.com, sudah saatnya pemerintah untuk tegas mengambil sikap atas temuan-temuan ini. Hal ini juga diungkap oleh Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman yang mendesak Kementerian Kesehatan untuk menetapkan gangguan ginjal akut sebagai KLB atau Kejadian Luar Biasa.
Status KLB diperlukan dalam kasus gangguan ginjal akut, karena akan mempermudah proses pengendalian dan pencegahan penyakit. "Memang sudah keluar daftar rumah sakit rujukan untuk penyakit gangguan ginjal akut ini, tapi tanpa status KLB itu semua akan percuma," tegas Dicky Budiman, pada Okezone.com, Kamis (20/10/2022).
Dicky memaparkan, penyakit gangguan ginjal akut yang saat ini sedang merebak sudah memenuhi indikator KLB, antara lain peningkatan kasus kematian maupun jumlah kasus yang meningkat dalam 3 periode waktu berdekatan.
"Artinya, banyak kriteria sudah terpenuhi untuk menyatakan bahwa penyakit gangguan ginjal akut adalah penyakit KLB. Saya cukup heran kenapa sampai sekarang belum juga ditetapkan sebagai KLB," ungkap Dicky.
Padahal, dengan ditetapkannya status KLB pada penyakit gangguan ginjal akut, itu akan memudahkan koordinasi dan optimalisasi sumber daya di bidang kesehatan dalam penanggulangan masalah ini.
Jadi, sekalipun rumah sakit rujukan yang mana itu memang penting sudah tersedia, tapi tetap diperlukan status KLB. Sebab, gangguan ginjal akut ini bukan kasus biasa, karena memerlukan level treatment fasilitas yang tidak ada di Puskesmas. Bahkan tidak semua daerah punya fasilitas hemodialisis atau preston dialisis yang memerlukan dokter bedah anak, demikian penjelasan Epidemiolog Dicky Budiman.
Akankah Kemenkes RI segera menetapkan kasus gangguan ginjal akut pada anak ini menjadi KLB (Kejadian Luar Biasa)? Semoga, para pemangku kepentingan di negeri ini segera menunjukkan upaya nyata untuk segera menindaklanjuti kasus gangguan ginjal akut yang tengah mengintai banyak anak Indonesia.
(Kemas Irawan Nurrachman)