“Kondisi itu bukan hanya bagian dari efek samping obat yang dikonsumsi dalam jangka panjang, tapi juga efek dari sosial di masyarakat,” lanjut Dena.
Misalnya pengalaman dari Paran Sarimita Winarni, penyintas TBC RO. Dengan terbuka ia pernah mengidap anxiety dan depresi karena penyakit tersebut. Ia merasa masalah dalam hidupnya tidak pernah berhenti datang.
"Masalah seperti datang tiada henti. Bukan hanya berjibaku dengan penyakit TBC RO, tapi juga menyadari bahwa tidak lagi bekerja, bikin mental saya terganggu," terangnya di sesi Webinar bersama Kemenkes belum lama ini.
Paska sembuh dari TBC RO pun, masalah kesehatan mental masih menyelimuti Paran.
"Saya masih mengalami mental health issue, jadi masih ada perasaan feeling insecure, tidak bisa bersosialisasi dengan baik, dan itu masih tersisa," tambahnya.
Menyadari hal tersebut, Paran bergeran mencoba mencari cara untuk bisa benar-benar pulih. Akhirnya dia memutuskan bergabung dengan komunitas penyintas TBC RO.
"Setelah gbaung dengan komunitas penyintas TBC RO, saya merasa jauh lebih baik. Ya, mungkin karena saya merasa orang-orang yang ada di komunitas, mengerti dan bisa merasakan menjadi bagian dari orang dengan TBC RO," tutup Paran.
BACA JUGA:Waduh! Pria Ini Alergi Spermanya Sendiri, Super Apes?
BACA JUGA:Didiagnosa Alergi Air, Gadis Remaja Ini Merasa Terbakar Saat Kulitnya Basah
(rpa)
(Kemas Irawan Nurrachman)