“Ketika kami melihat kembali riwayat pasien, jadi bahwa mereka menunjukkan beberapa gangguan kognitif beberapa tahun. Ini terlihat sebelum gejala mereka menjadi cukup jelas untuk mendorong diagnosis,” ujar Dr.Nol Swaddiwudhipong sebagai peneliti.
“Kelemahannya seringkali tidak kentara, tetapi melintasi sejumlah aspek kognisi. Ini adalah langkah kami, untuk dapat menyaring para individu yang paling berisiko, ” tambahnya.
Lebih lanjut, peneliti menjelaskan bahwa pasien biasanya tidak terdiagnosis sampai gejalanya akan mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari mereka. Meski pun begitu, sebagai catatan bahwa gejala dan tanda awal ini tidak selalu berlaku secara universal, mengingat beberapa penyakit lain punya gejala awal yang sama.
“Orang-orang tidak perlu terlalu khawatir jika, misalnya, mereka tidak pandai mengingat angka. Bahkan beberapa individu yang sehat secara alami akan mendapat skor lebih baik atau lebih buruk daripada rekan-rekannya,” ujar Dr. Tim Rittman, peneliti lainnya.