Sementara itu, dilanjutkan dr. Mayer, menyaksikan bencana di depan mata dapat membawa manfaat secara emosi bagi korban selamat.
"Melihat bencana merangsang empati kita dan manusia memang diprogram menjadi makhluk berempati, artinya ini adalah kondisi psikososial utama yang membuat kita menjadi manusia sosial," katanya.
Tapi, pada beberapa kondisi empati yang timbul bisa berdampak sangat buruk bagi manusia itu sendiri terlebih jika orang tersebut mengenal korban bencana secara pribadi.
"Reaksi depresi adalah dampak paling umum," ungkap Psikiater dr. Stephen Rosenberg.
Dari pembahasan ini, para ahli memperingatkan potensi alami post-traumatic stress disorder atau PTSD bagi korban selamat maupun keluarga yang ditinggalkan. Makanya, penting bagi korban selamat atau keluarga korban mendapat pendampingan tenaga profesional untuk bisa melalui musibah.
PTSD dapat terjadi ketika seseorang mengalami, menyaksikan, atau dihadapkan pada peristiwa yang mengerikan. Kematian tragis memperbesar kemungkinan seseorang alami PTSD.
"Kematian tak terduga dikaitkan secara konsisten dengan peningkatan kemungkinan timbulnya PTSD baru, gangguan panik, dan episode depresi di semua tahapan perjalanan hidup," ungkap studi yang dilakukan Keyes pada 2014, dikutip dari laman Center for Anxiety Disorders.
(Rizky Pradita Ananda)