Adapun, pemerhati budaya dari Rumpun Indonesia, Marintan Sirait menuturkan, kegiatan tari merak kolosal ini diinisiasi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar bersama gabungan pegiat kemanusiaan dan komunitas seni dan budaya, yakni Rumpun Indonesia, Pusat Bina Tari Bandung, Sasikirana KoreoLab & Dance Camp, serta Jabar Masagi.
"Kegiatan ini bermaksud untuk mengajak perempuan lintas disiplin, lintas wilayah dengan beragam latar belakang, untuk menari bersama dengan narasi yang menunjukkan semangat persatuan, upaya pemajuan kebudayaan, dan membangun toleransi," tuturnya.
Menurutnya, tari merak merupakan simbol tepat yang merepresentasi kepedulian perempuan terhadap lingkungan. Tari merak juga membangun semangat gotong royong bagi perempuan yang masih memiliki keterbatasan bersuara dan dukungan terhadap gerakan inklusivisme.
"Kami meyakini bahwa pendekatan seni mampu membuka ruang ekspresi sekaligus menjadi jembatan untuk berpikir secara kritis mengenai persoalan sosial yang berkembang di Tanah Air dan dunia," katanya.
Sementara itu, Kepala Disparbud Jabar, Benny Bachtiar mengatakan, tema "Merak Sadunya" yang diusung dalam kegiatan itu merupakan simbol menjaga kerukunan dan membangun penghargaan terhadap keberagaman saudara sebangsa se-Tanah Air dengan merawat semangat gotong royong.
"Selain itu, kegiatan ini bagian dari sosialisasi dan promosi bahawa budaya sunda itu indah," katanya.
Kepala Bidang Kebudayaan, Febiyani menambahkan, kolaborasi Disparbud Jabar bersama pegiat kemanusiaan dan perempuan bukan pertama kali dilakukan. Sebelumnya, pihaknya juga menggelar seminar "Gerakan Perempuan untuk Kehidupan yang Lestari".
"Jadi acara ini merupakan bentuk dukungan dari Pemprov Jabar untuk komunitas kemanusiaan dan perempuan dalam membentuk narasi persatuan dalam konsep seni dan budaya," katanya.
(Kurniawati Hasjanah)