Seperti yang diketahui, hubungan parasosial ini sifatnya sepihak atau bertepuk sebelah tangan. Walaupun ada kejadian penggemar yang pada akhirnya berhasil benar-benar memiliki “hubungan” dengan sang idola, namun kemungkinannya sangat kecil. Terlebih lagi pada karakter fiksi yang wujudnya tak benar-benar ada di dunia.
Sebenarnya, strategi menjalin hubungan parasosial ini cukup menguntung bagi sang artis. Mereka akan mendapatkan penggemar yang loyal yang tidak perlu berpikir dua kali untuk menghabiskan uang pada karya atau produknya. Sedangkan dari sisi penggemar sendiri, mereka akan mendapat kebahagiaan emosional atas hubungan “halu” ini.
Di lain sisi, apabila hubungan parasosial ini melewati batas-batas yang ada, ia akan berubah menjadi sesuatu yang tidak sehat. Sang artis bisa saja diusik kehidupan pribadinya oleh orang-orang yang sudah “jatuh” terlalu dalam pada hubungan parasosial ini. Begitu pula sang penggemar yang dapat merasa kesulitan membedakan antara imajinasi dengan realita.
(Vivin Lizetha)