BEBERAPA penyakit Bell’s palsy akan dibahas Okezone. Penyakit yang satu ini sering dikaitkan dengan gejala stroke.
Orang-orang kerap mengkaitkan Bell’s palsy dengan gejala stroke karena gejalanya sama-sama membuat lumpuh. Padahal, kelumpuhan Bell’s palsy hanya terjadi pada otot wajah.
Dilansir dari Mayo Clinic, Bell’s palsy merupakan sebuah kondisi dimana otot-otot di salah satu sisi wajah penderitanya akan melemah. Melemahnya otot-otot tersebut membuat salah satu sisi wajah terlihat melorot dan lumpuh. Penderitanya juga tidak akan bisa senyum dengan simetris atau menutup salah satu matanya.
Dalam beberapa kasus, kelemahan otot tersebut bisa bersifat sementara dan bisa meningkat secara signifikan dalam beberapa minggu. Sebagian besar penderita bisa sembuh dari Bell’s palsy setelah melakukan serangkaian pengobatan dalam waktu kurang lebih 6 bulan.
Bell’s palsy atau yang juga dikenal dengan kelumpuhan wajah perifer akut hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Para ahli menduga jika kelumpuhan tersebut bisa disebabkan karna adanya peradangan atau pembengkakan pada otot wajah yang disebabkan karena adanya infeksi virus.
Gejala dari penyakit Bell’s palsy bisa datang secara tiba-tiba. Berikut beberapa gejala yang mungkin terjadi pada penderitanya:
-Terjadi kelemahan ringan hingga total pada salah satu sisi wajah dan bisa berlangsung dalam beberapa jam hingga hitungan hari.
-Sulit untuk menunjukan ekspresi, seperti menutup mata atau tersenyum simetris.
-Mengiler.
-Muncul rasa nyeri pada salah satu sisi rahang atau di belakang telinga.
-Meningkatkan kepekaan pada salah satu sisi yang terkena Bell’s palsy.
-Terasa sakit kepala dan kehilangan rasa.
-Jumlah air mata dan air liur berubah.
Meski belum diketahui secara pasti penyebab penyakit Bell’s palsy, namun ada beberapa faktor risiko yang memungkinkan seseorang terkena Bell’s palsy diantaranya adalah wanita yang sedang hamil pada trimester ketiga atau minggu-minggu pertama setelah melahirkan, orang dengan infeksi saluran pernafasan atas lalu penderita diabetes, selain itu penderita tekanan darah tinggi.
Bell’s palsy tidak bisa dicegah, namun bisa dikurangi dengan mengontrol faktor risiko penyebabnya. Sedangkan bagi penderita Bell’s palsy ringan tak perlu pengobatan karena bisa sembuh sendiri. Namun bagi penderita Bell’s palsy berat bisa melakukan terapi atau operasi.
Demikian informasi mengenai penyakit Bell’s Palsy.
(RIN)
(Rani Hardjanti)