Para peneliti menemukan bahwa ketika rumah memanas, proses perpindahan panas akan melambat yang akhirnya mencapai perpindahan zero heat pada keseimbangan, ketika suhu di dalam sama dengan suhu di luar.
Sehingga menurut penelitian tersebut, sistem pendingin dalam AC kurang efektif dalam kondisi panas yang ekstrem. Apabila AC dibiarkan mati selama kondisi ekstrem tersebut, dapat meningkatkan efisiensi sistem secara keseluruhan.
Dengan ini, artinya tidak ada jawaban multak langsung apakah harus mematikan AC sepanjang hari atau menunggu sampai kita pulang kembali ke rumah.
Lebih lanjut, tim peneliti melakukan kasus uji untuk penggunaan energi di rumah hipotetis seluas 1.200 meter persegi. Selama studi, para peneliti mempertimbangkan tiga skenario strategi suhu di dua iklim hangat yakni di Arizona dan Georgia
Tim peneliti menggunakan tiga teknologi AC yang berbeda yakni AC sentral satu tahap (tipikal AC yang digunakan kebanyakan orang saat ini), pompa panas sumber udara sentral (ASHP), dan unit pompa panas minisplit.
Kemudian, peneliti menemukan bahwa ketika AC melonjak sementara untuk pulih dari suhu dalam ruangan yang lebih tinggi, konsumsi energi keseluruhan dalam kasus kemunduran masih lebih sedikit daripada saat mempertahankan suhu konstan sepanjang hari. Para peneliti menyebut, pada skala tahunan dengan AC sentral konvensional, ini bisa menghemat energi hingga 11 persen.
Selain itu, peneliti juga melihat bahwa pompa panas sumber udara pusat dan pompa panas mini-split memang lebih efisien secara keseluruhan. Tapi menghasilkan penghematan yang lebih rendah dari penurunan suhu.
(Rizky Pradita Ananda)