Mengenal Hugo, Sang Pilot Misi Kemanusiaan di Belantara Papua

Antara, Jurnalis
Rabu 17 Agustus 2022 05:01 WIB
Yoseph Hugo, pilot muda misi kemanusiaan di belantara Paua (Foto:
Share :

Setelah melakukan pengamatan selama empat bulan berselang beberapa waktu kemudian ada pembukaan penerbangan melalui program Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B).

Jalan untuk menjadi seorang pilot semakin terbuka lebar setelah dia bersama 17 rekan lainnya dari yang merupakan anak asli Papua dinyatakan lulus dari UP4B dan mendapat beasiswa pada 2014. Mereka kemudian dikirim ke Sekolah Tinggi Ilmu Penerbangan Curug di Tangerang, Provinsi Banten.

"Di Curug kami diseleksi lagi dan dari 18 anak asli Papua yang ikut lulus saya bersama tujuh rekan saya dinyatakan lulus," katanya mengutip Antara.

Dia menjelaskan setelah mengikuti pendidikan di Curug dia bersama rekan-rekannya dipindahkan ke Balai Pendidikan Pelatihan Penerbangan Banyuwangi, Jawa Timur sejak 2015 hingga Oktober 2017 mereka dinyatakan lulus.

Setelah lulus dari Balai Pendidikan Pelatihan Penerbangan Banyuwangi, Jawa Timur dia sempat menganggur selama empat bulan sebelum pada Februari melamar ke YPPT pada Februari 2018.

"Saya pulang ke Jayapura untuk menjaga ibu (mama) karena ayah saya meninggal pada 4 Juli 2017 sekaligus melanjutkan usaha ternak Babi yang dijalankan mendiang ayahnya," ujarnya.

Penolakan orangtua

Cita-cita Hugo untuk menjadi seorang pilot awalnya tidak mendapat persetujuan dari kedua orangtua yakni mendiang Nico Mirino dan J.J. Mirino Krey.

Ketika itu mereka ingin supaya Hugo bisa mengikuti jejak mereka untuk bekerja di dunia perbankan ataupun menjadi seorang pendeta atau gembala.

"Bapak saya itu kerja di bank dan mama (ibu) seorang pendeta jadi mereka ingin saya menjadi pegawai bank," katanya lagi.

Namun berkat kegigihannya dia terus berusaha dan bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya sejak kecil dan akhirnya Tuhan menjawab doanya menjadi kapten pilot di Tanah Papua.

Rute penerbangan

Pelayanan penerbangan oleh YPPT yang menjangkau ke daerah terpencil di Papua di ​mulai dari Kabupaten Pegunungan Bintang hingga ke Kabupaten Paniai tetapi juga ke Yahukimo, Yalimo, Mulia, Karubaga, Kobagma dan Nabire.

Dalam sekali penerbangan maksimal penumpang sebanyak sembilan orang tanpa co-pilot dengan total muatan seberat satu ton. Pelayanan penerbangan yang dijalankan oleh YPPT lebih kepada misi penjemputan pasien di setiap distrik terjauh dan anak-anak yang ingin bersekolah ke kota.

"Pelayan seperti itu semua gratis kami juga bisa membantu masyarakat ketika sedang melakukan pengerjaan lapangan terbang (Lapter) seperti perawatan," katanya lagi.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya