Sebagai Hidangan Tradisi Buka Luwur
Nasi jangkrik oleh masyarakat Kudus dijadikan sebagai hidangan yang dibagikan secara gratis kepada sesama saat puncak tradisi buka luwur atau pelepasan kain selubung makam Sunan Kudus yang diadakan pada setiap tanggal 10 Muharram (Asyura).
Luwur merupakan kain kelambu atau selubung penutup makam. Dalam tradisi buka luwur, luwur yang menutupi makam Sunan Kudus diganti baru.
Hingga kini pembagian nasi jangkrik menjadi salah satu bagian dalam tradisi buka luwur yang masih terus dilestarikan. Pembagian nasi jangkrik sendiri bertujuan untuk menumbuhkan rasa saling berbagi terhadap sesama, terutama kepada yang membutuhkan.
Uniknya, bahan-bahan yang dibutuhkan dalam mengolah nasi jangkrik berasal dari sumbangan masyarakat, baik dalam bentuk kerbau, kambing, beras, dan lainnya. Pengolahannya pun melibatkan sukarelawan, atau biasa disebut dengan istilah perewang, yang jumlahnya dapat mencapai lebih dari 1000 perewang.
Nasi jangkrik sendiri terdiri dari nasi dengan lauk olahan daging kerbau yang dipotong dadu. Seporsi nasi jangkrik terdiri dari nasi putih, olahan daging kerbau, tahu, ada juga yang ditambah krecek dengan kuah bersantan nyemek atau sekedar basah. Perpaduan yang didapat selain gurih juga pedas yang berasal dari sambal sebagai pelengkap dalam nasi jangkrik.
Penyajian nasi jangkrik sendiri mempertahankan kearifan ekologis dengan menggunakan bungkus atau lemek daun jati. Selain memiliki makna kesederhanaan, daun jati juga menambah khas aroma nasi yang secara psikologis dapat mendongkrak nafsu makan sebab makanan terasa lebih sedap.
(Salman Mardira)