Sebanyak data dari 1481 pasien serangan jantung, termasuk wanita dan pria yang berusia antara 24 dan 94 tahun digunakan dalam penelitian ini. Sehingga para ilmuwan bisa memeriksa, tingkat kelangsungan hidup selama 19 tahun, sejak tahun 2000 hingga 2018.
Peneliti kemudian memantau, apakah pasien serangan jantung dari kawasan distrik yang lebih miskin di Wina meninggal lebih awal daripada pasien yang berasal dari kawasan distrik yang lebih elit. Ya, hasilnya peneliti mendapati bahwa orang yang tinggal di daerah miskin memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan jantung lebih awal.
"Kami tidak dapat menentukan bahwa orang meninggal karena serangan jantung pada tingkat yang berbeda antara wilayah distrik yang berbeda di Wina. Tetapi data kami menunjukkan bahwa, orang-orang yang berasal dari distrik yang lebih miskin, mengalami serangan jantung lebih awal,” kata Sonja Spitzer, penulis utama studi.
Disebutkan lebih lanjut, dari studi di atas, wanita yan tinggal di kawasan elit alias wanita kaya mengalami serangan jantung pada usia rata-rata 70,2 tahun. Sedangkan wanita dari distrik yang lebih miskin, mengalami serangan jantung lebih cepat, pada usia rata-rata 64,6 tahun.
Finansial dan bagaimana gaya hidup yang dijalani menjadi faktor penting dalam studi penelitian ini. Memang, bila Anda menjalani gaya hidup dengan sehat, kita bisa secara signifikan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.
Namun patut diperhatikan, orang miskin yang berpenghasilan rendah sering mengalami masalah makan sehat dalam jangka waktu yang panjang. Bukan hanya itu, orang-orang yang tinggal di kawasan daerah ekonomi rendah atau kumuh, biasanya juga dihadapkan dengan masalah akses dan infrastruktur medisnya yang kurang baik. Salah satu contohnya, kekurangan tenaga dokter spesialis atau ahli di fasilitas kesehatan yang ada.
(Rizky Pradita Ananda)