Perbuatan penindasan itu, tentu tidak boleh dilakukan oleh semua umat beragama. "Kami intinya mengunjungi Museum Multatuli itu ingin memberi edukasi kepada jamaah para pelajar itu," katanya.
Sementara itu, Marco Van Veer warga Belanda dan Murrin warga Skotlandia mengatakan dirinya kali pertama mengunjungi Museum Multatuli di Kabupaten Lebak, Banten, dan cukup prihatin kisah buku Max Havelaar yang ditulis Multatuli tentang kerja paksa juga mengeruk harta kekayaan warga pribumi, termasuk pemerasan pajak.
"Kami berharap di tengah peradaban masyarakat yang maju secara global kini sudah tidak ada lagi penindasan, " kata Murrin singkat.
(Rizka Diputra)