KEMENTERIAN Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong pelaku pariwisata melakukan upaya mitigasi bencana di destinasi wisata, misalnya menyiapkan alat-alat pengamanan dalam melaksanakan tanggap darurat ketika terjadi bencana.
"Maka yang harus disiapkan oleh destinasi pariwisata kita adalah alat-alat yang diperlukan untuk melaksanakan tanggap darurat ketika bencana itu terjadi," ujar Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kemenparekraf, Fadjar Hutomo.
Pihaknya lanjut Fadjar, mengajak pelaku pariwisata mengambil peran aktif dalam menanggulangi bencana demi mewujudkan industri pariwisata yang berkelanjutan.
“Ini yang harus kita lakukan, bagaimanapun ini kita adalah masyarakat yang hidup di ring of fire,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perlunya kolaborasi untuk pencegahan dan kesiapsiagaan bencana untuk mewujudkan rencana manajemen terpadu, antara lain memanfaatkan data dan informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk manajemen krisis kepariwisataan agar mampu mengantisipasi berbagai bencana di Indonesia.
Saat ini, Kemenparekraf disebut telah memiliki kerangka kerja terkait manajemen krisis pariwisata dan ekonomi kreatif mulai dari fase kesiapsiagaan dan mitigasi, fase tanggap darurat, fase pemulihan, dan fase normalisasi.