Di acara puncak digelar pertunjukan debus seperti mematahkan batu bata menggunakan tangan dan kepala, bermain bola api serta uji kekebalan tubuh dengan menyayat tangan dan kaki menggunakan senjata.
Ardi, masyarakat setempat menjelaskan, pertunjukan debus sudah dilakukan sejak orang tuanya terdahulu.
"Ini menjadi tradisi desa kami," terangnya.
Ardi memaparkan, tradisi ini berawal dari sesepuh setempat bernama Abdul Hamid alias Mbah Dul Khamid yang berasal dari Pulau Jawa.
Mbah Dul Khamid ini dikenal sebagai sosok alim ulama pada masanya, dia mempunyai kepintaran di ilmu debus lalu mengajarkannya kepada warga sekitar sebagai sarana hiburan saat menyambut hari raya Idul Fitri.
Sepeninggal Mbah Dul, pertunjukkan itu kini terus digelar dan dijadikan sebagai tradisi setempat.
(Kurniawati Hasjanah)