7. Korea Utara
Negeri Komunis ini menahan sekitar 80.000 hingga 120.000 tahanan di kamp-kamp, dimana banyak diantara mereka yang didakwa tanpa kejahatan yang jelas. Korban otoritarian ini dibiarkan saja tanpa perawatan medis dan makanan, para tahanan sering mati, tubuh mereka dibakar di tungku dan dibuang ke kuburan massal.
Penindasan pemerintah mendorong warga Korea Utara untuk melarikan diri dari negara itu, membuat mereka rentan terhadap perdagangan manusia di negara-negara tujuan. Kamp kerja paksa Korea Utara dan hukuman mati memicu tingginya perdagangan manusia di negara tetangga China ini.
8. Sudan
Banyak para penegak hukum Sudan yang justru sering terlibat dan mendapat untung dari jaringan perdagangan manusia untuk seks. Polisi Sudan dan petugas patroli perbatasan konon memfasilitasi penculikan warga negara Eritrea dan mengizinkan pengangkutan calon korban melintasi perbatasan tanpa intervensi.
Namun bukan perarti masyarakat di negara ini aman dari human trafficking. Justru para pemuda dan pemudi setempat cukup rentan terhadap perekrutan dan penggunaan sebagai kombatan oleh kelompok bersenjata dan milisi non-pemerintah Sudan.
9. Suriah
Negara Islam yang porak-poranda akibat perang saudara hingga munculnya kelompok bersenjata dari berbagai ideologi yang mengerahkan kendali atas wilayah geografis yang luas di wilayah negara itu membuat Syria sangat kacau dalam hal penegakan hukum.
Pada bulan Desember 2014, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) merilis pedoman umum tentang cara menangkap, menahan secara paksa, dan melecehkan budak perempuan secara seksual. Tentara ISIS secara rutin menjadikan perempuan dan anak perempuan dari kelompok minoritas untuk kawin paksa, pembantu rumah tangga, pemerkosaan sistematis, dan kekerasan seksual.
ISIS mengharuskan gadis-gadis Suriah untuk mengikuti tes keperawanan sebelum menjual mereka di “pasar budak” dan memindahkan mereka ke berbagai provinsi Suriah dan negara lain untuk perbudakan seksual. Hal itu diperparah oleh keadaan para penyelundup yang menyediakan jalur ilegal ke Eropa melalui Laut Mediterania, menempatkan warga Suriah yang niatnya ingin kabur mencari penghidupan lebih baik malah berada pada risiko diperdagangkan.
10. Venezuela
Di antara mereka yang diperdagangkan keluar dari Venezuela, 55 persen adalah orang dewasa, 26 persen adalah anak perempuan dan 19 persen adalah anak laki-laki. Terpikat oleh janji pekerjaan bergaji tinggi, mereka malah dikirim ke negara-negara di Karibia, di mana para penjahat memaksa mereka ke dalam perdagangan seks atau pembantu rumah tangga.
Venezuela terus menempati peringkat sebagai salah satu negara terburuk dengan kasus perdagangan manusia tertinggi karena mereka tidak mampu berbuat banyak untuk mencegah atau menghukum perdagangan manusia. Korupsi, inflasi dan kemiskinan membuat semuanya kacau di negeri ini.
(Salman Mardira)