Masjid Cikoneng Menes, Saksi Bisu Kekejaman Serdadu Belanda Tembaki Jamaah Salat Subuh

Antara, Jurnalis
Selasa 12 April 2022 00:03 WIB
Masjid Cikoneng Menes, Pandeglang, Banten (Foto: kemenagpandeglang.id)
Share :

MASJID Cikoneng berupa bangunan tua yang berlokasi di Kampung Manungtung Desa Cilaban Bulan, Kecamatan Menes dulunya sebagai tempat penyebaran Islam di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

"Dulu masjid ini juga menjadikan sejarah karena menjadi sasaran penembakan pasukan Belanda pada agresi (militer) kedua tahun 1948, namun beruntung jamaah salat subuh ketika itu tidak ada korban jiwa setelah menyelamatkan diri dengan melompati jendela," kata Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Cikoneng, Ustad Abdul Hakim (63) Desa Cilaban Bulan, Menes, Pandeglang, Banten.

Masyarakat di sini tidak ada lagi yang mengetahui sejarah pembangunan Masjid Cikoneng Manungtung itu, karena sesepuh atau tetua warga sudah pada meninggal.

Namun berdasarkan pengakuan tokoh masyarakat bahwa masjid yang masih terawat hingga saat ini, dibangun sekitar tahun 1888 atau setelah dibangun Masjid As-Syafie, Syech Asnawi Caringin Labuan 1887 atau empat tahun setelah Gunung Krakatau erupsi.

Sebelum sepekan memasuki Ramadan, warga secara gotong royong melakukan pembersihan, pengecetan dan pemasangan karpet di ruangan masjid.

Kondisi masjid yang sudah berusia 100 tahun dengan daya tampung 400 jamaah itu hanya beberapa bagian yang dilakukan pemugaran oleh warga setempat, seperti tempat wudhu, toilet, dinding ditempel keramik, pintu dan pemasangan pintu jendela.

Sedangkan bagian ruang tengah masjid dengan empat tiang kayu penyanggah masih utuh tanpa perbaikan, termasuk tongkat, juga ruangan depan untuk musyawarah. Begitu juga beduk dan tongtong sebagai tanda memulai salat juga masih bertahan dan belum mengalami kerusakan.

Selama ini, kata dia, Masjid Cikoneng Manungtung itu belum tercatat sebagai cagar budaya yang dilindungi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten.

Padahal, kata dia, keberadaan masjid itu memiliki sejarah panjang penyebaran agama Islam, karena dulu banyak jamaah dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Pandeglang saat Ramadan dan Salat Jumat, mereka berjalan kaki hingga seharian. Mereka jamaah itu datang dari Pulosari, Mandalawangi, Sodong, Saketi, Cipecang hingga Pandeglang.

"Kami berharap masjid itu segera dilindungi cagar budaya untuk menjaga kelestarian," kata Abdul Hakim.

Menurut dia, saat ini pada Ramadan Masjid Cikoneng Manungtung juga ramai untuk kegiatan pengajian Alquran (mikra), diskusi dan dakwah juga buka puasa bersama dengan menyediakan takjil.

Mereka peserta kegiatan ibadah Ramadan, selain warga setempat juga terdapat santri salah satu pondok pesantren di daerah itu.

"Kami lebih meramaikan masjid di bulan suci Ramadan yang penuh ampunan Allah SWT, " ujarnya menjelaskan.

Sementara itu, Sakranah (78), warga Manungtung Menes, Kabupaten Pandeglang mengaku sejak dirinya masih kecil, bangunan Masjid Cikoneng sudah berdiri.

Bahkan, dirinya saat pasukan Belanda tengah mencari ulama menembaki jamaah yang sedang salat subuh di Masjid Cikoneng itu mengetahui dari bunyi rentetan peluru. Kejadian itu, kata dia, ia masih kanak-kanak dan cukup segar dalam ingatan.

"Kami sebagai warga asli pribumi Manungtung yang rumahnya tidak jauh dengan Masjid Cikoneng sama sekali tidak mengetahui pembangunan masjid itu, sebab sebelum lahir masjid itu sudah ada," kata Sakranah yang menyatakan memiliki puluhan cucu dan cicit.

(Rizka Diputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya