Tujuh kategori yang menjadi dasar penilaian antara lain Daya Tarik Pengunjung (termasuk keunikan dan keotentikan wisata desa), Homestay, Digital dan Kreatif, (terutama dari produk UMKM dari desa setempat), Toilet Umum, CHSE (Cleanliness/Kebersihan, Health/Kesehatan, Safety/Keamanan, dan Environmental Sustainability/Keberlanjutan Lingkungan), serta Kelembagaan Desa.
Camping di Desa Wisata Tinalah, Kulon Progo, Jawa Tengah (Foto: Wonderfulimage.id/Azhari Setiawan)
Kategori penilaiannya terlihat cukup banyak. Namun, bukan berarti hal ini mempersulit desa wisata dalam memperebutkan posisi tertinggi. Sebaliknya, dengan semakin banyak kategori, semakin banyak pula peluang untuk unjuk gigi sebagai salah satu desa wisata terbaik di Indonesia.
Sandiaga menjelaskan, berbeda dengan sebelumnya yang berfokus pada destinasi wisata eksklusif, untuk saat ini Pemerintah tengah memperkuat sektor pariwisata dari UMKM. Tujuannya antara lain untuk mewujudkan demokratisasi pariwisata.
Salah satu produk UMKM kerajinan tangan desa wisata Sungai Kupah, Kalimantan Barat (Foto: Wonderfulimage.id/Azhari Setiawan)
Artinya, setiap sektor pariwisata di Indonesia mendapatkan hak yang sama untuk berkembang secara optimal, dari berbagai segi. Karakteristik setiap wisata di Indonesia juga ditonjolkan untuk menjadi suatu keunggulan. Untuk itu, poin keotentikan wisata juga menjadi salah satu penilaian dalam ADWI.
Kita pun bisa mendukung pariwisata di Indonesia dengan cara mengunjungi desa-desa wisata ketika berlibur ke suatu destinasi. Dengan mengunjungi desa wisata, wawasan kita akan budaya Indonesia akan semakin bertambah.
Bertemu dengan masyarakat desa dari berbagai provinsi akan membuat kita menyadari keberagaman yang kaya di Indonesia. Pengalaman pun akan bertambah. Di sisi lain, kita pun dapat membantu meningkatkan perekonomian desa wisata, misalnya dengan membeli souvenir hasil karya setempat atau dengan menginap di homestay yang berlokasi di desa wisata.
Jadi peserta ADWI