Kawin culik terjadi ketika perempuan tidak suka dengan laki-laki yang menginginkannya. Laki-laki tersebut bersama teman-temannya dapat menculik sang perempuan pada malam hari. Jika hal itu terjadi, maka sang perempuan tidak dapat menolak pernikahan.
Sementara, kawin lari terjadi ketika perempuan dan laki-laki sama-sama suka. Namun, kawin lari dilakukan tanpa sepengetahuan kedua orang tua. Setelah dua atau tiga hari mereka meninggalkan rumah, keduanya akan kembali untuk menikah.
Baik kawin culik maupun kawin lari, sang perempuan diharuskan untuk dapat menenun terlebih dahulu.
Di Desa Sade wisatawan dapat melihat langsung proses menenun kain, yang menjadi mata pencarian utama. Sebab, menurut Amak Epa, panen untuk bertani padi hanya dapat dilakukan satu tahun sekali.
Proses menenun kain dapat dilakukan dua pekan hingga satu bulan untuk songket. Hasil tenun kemudian dijual kepada para wisatawan.
Uniknya, di Desa Sade semua bangunan rumah masih sangat tradisional dengan atap rumah yang terbuat dari alang-alang, tembok dari anyaman bambu dan lantai beralaskan tanah.
Di dalam rumah juga terdiri dari dua tingkat yang dihubungkan dengan tiga anak tangga yang melambangkan kepercayaan yang dianut penduduk asli suku sasak, yakni penganut Wetu Telu -- Islam, Hindu dan Animisme, sebelum akhirnya muslim.
Hanya ada dua ruangan besar tanpa sekat di rumah. Pada lantai pertama ruangan besar menjadi ruang multifungsi yang digunakan untuk ruang tidur orang tua dan menerima tamu. Sementara pada lantai kedua, bagian kanan digunakan untuk dapur dan bagian kiri digunakan untuk kamar gadis yang juga menjadi ruang melahirkan.
Sembari melihat rumah adat penduduk yang masih sangat tradisional, wisatawan juga bisa melihat-lihat aneka kerajinan tangan yang dipamerkan di berbagai penjuru yang bisa dibeli sebagai buah tangan.
Dompet kecil, tas kecil dan peci ditawarkan satu paket dengan harga Rp100.000 untuk lima item kombinasi barang kerajinan tangan tersebut.
(Kurniawati Hasjanah)