Untuk mendeteksi Omicron, kata Andi, perlu software yang mampu menjejerkan ratusan ribu data genom virus dan mencari bagian genom yang lestari. Dia menyebutkan, ada dua metode untuk mendeteksi varian Omicron. Keduanya berdasarkan surat edaran Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) 2021.
“Pertama, STGF (S-Gene Target Failure), konsepnya mencari Gen S yang tidak bisa dideteksi karena dari awal dibuatkan desain untuk virus original. Dalam hal ini, akan ada kemungkinan varian selain omicron,” tuturnya.
Metode lain yang bisa dipilih yakni SNP (Single Nucleotide Polymorphism). Metode ini langsung menjadikan titik mutasi sebagai target, maka sangat mendekati varian omicron.
“Metode kedua itu kami sebut dengan PCR O+. Sudah menyasar atau lebih spesifik karena sudah kami targetkan. Sebagai tambahannya, kami menggunakan tiga gen original, maka memperkecil kemungkinan kekeliruan. Tetapi saya tekankan, kami sepakat bahwa gold standard untuk memastikan semua itu adalah WGS,” ucapnya.
Sementara itu, Andi juga menegaskan bahwa PCR biasa tak bisa mendeteksi Omicron karena perlu spesifikasi. Menurut dia, PCR hanya mendeteksi bagian-bagian kecil yang spesifik.
"Kalau WGC (Whole Genome Sequencing), mengidentifikasi semua genom virus yang konsekuensinya perlu waktu lama dan biaya besar. Tapi untuk menentukan itu varian apa, hasilnya oke. Kalau PCR, hanya mencari bagian lestari dengan bagian tertentu yang dipilih,” papar Andi.
(Martin Bagya Kertiyasa)