Mereka juga menggunakan petasan untuk menakuti Nian. Akhirnya, monster itu tak pernah datang kembali ke desa, dan diduga diubah menjadi gunung oleh Hongjunlaozu, pendeta Tao di masa itu.
Pada perayaan Imlek, amplop merah yang umum dikenal dengan nama angpao akan dibagikan oleh orang-orang tua atau yang sudah menikah kepada remaja dan anak-anak.
Angpao dikenal juga dengan nama Ya Sui Qian, yang artinya 'uang untuk mengusir roh jahat'. Uang diletakkan di dalam amplop, dengan jumlah yang bervariasi dari puluhan hingga ratusan ribu.
Ada kepercayaan bahwa jumlah uang dalam amplop harus genap, karena angka ganjil berkaitan dengan nominal uang yang diberikan dalam upacara pemakaman.
Angka 8 dianggap sebagai angka keberuntungan (karena pengucapan bahasa China-nya berima dengan kata 'kekayaan').
Angka enam juga dianggap angka keberuntungan, karena dalam bahasa China, enam (liu) punya arti yang sama dengan lancar, dalam hal semua urusan di tahun baru diharapkan lancar. Kadang-kadang, cokelat berbentuk koin juga ditemukan pada amplop.
Dalam kepercayaan lima elemen (Wu Xing), yakni --kayu, api, tanah, logam, dan air masing-masing memiliki warna yang berkaitan.
Warna merah merupakan simbol elemen api, dan menjadi lambang dari rezeki dan kebahagiaan.
Warn merah dalam Imlek sering kali dipasangkan dengan warna emas. Pemilihan warna ini bukan tanpa alasan, kepercayaan China menganggap emas adalah warna yang menggabungkan Yin dan Yang, dan merupakan pusat dari segalanya, menurut, Qi Harmony.
Kuning, yang merupakan dasar warna emas menjadi simbol kealamian dan keberuntungan. Sementara kuning merupakan warna dari kerajaan-kerajaan, dan simbol lima kaisar legendaris China kuno.
Warna itu juga melambangkan kebebasan dunia dan dimuliakan dalam kepercayaan Buddha, hal ini terlihat dari pakaian para biksu yang diwajibkan berwarna kuning.
(Kurniawati Hasjanah)