3. Reverse thrust atau pembalik daya dorong
Reverse thrust atau pembalik daya dorong menjadi bagian yang sangat umum dari mesin pesawat modern. Penerapan pembalik daya dorong lebih penting untuk pesawat yang lebih berat. Beberapa pesawat yang lebih kecil seperti BAE 146 masih belum menemukan penggunaan reverse thrust dalam sistemnya.
Ini mungkin ada hubungannya dengan kombinasi sistem pengereman yang kuat dan spoiler yang efektif. Namun, pada pesawat penumpang berat seperti A330, pembalik daya dorong sangatlah penting digunakan.
Cara kerja pembalik daya dorong mudah dipahami dan sangat praktis. Pada mesin turbofan high-bypass modern, lebih dari 90% udara akan dihisap dan dikeluarkan dari mesin. Setelah touchdown, yang harus dilakukan oleh pembalik dorong hanyalah mengubah arah udara.
Alih-alih didorong ke belakang, pembalik membuka bukaan ke samping untuk memungkinkan udara mendorong ke depan. Ini menciptakan 'dorongan berlawanan' dan membantu pesawat berhenti. Berbeda dengan proses pengereman roda, pembalik dorong sebagian besar manual dan diterapkan setelah pesawat mendarat dengan aman.
4. Persiapan
Pendaratan pesawat yang aman sangat bergantung pada sistem pengereman, namun tidak sepenuhnya. Agar seorang pilot dapat menghentikan pesawat dengan aman, perhitungan dan persiapan sebelumnya perlu dilakukan. Jika sebuah pesawat mendarat dengan kecepatan yang sangat tinggi, hanya ada sedikit sistem pengereman yang dapat dilakukan.
Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan:
1. Berat pesawat: Sebelum pesawat lepas landas, pilot harus menyadari berat pendaratan yang diprediksi. Jika pesawat terlalu berat, mungkin tidak dapat berhenti di landasan yang basah atau pendek.
2. Panjang landasan pacu: Pilot harus mengingat jarak pendaratan yang tersedia dan panjang ambang batas untuk melakukan pendaratan yang aman. Flap sering digunakan untuk membuat pesawat mendarat dengan mudah di landasan pacu yang lebih pendek.
3. Pendekatan: Pendekatan adalah aspek yang sama pentingnya. Jika pesawat tidak sejajar dengan landasan pacu atau menghadapi angin kencang, pesawat mungkin tidak berhenti setelah mendarat.
4. Jenis landasan pacu: Landasan pacu basah memerlukan pertimbangan khusus karena pesawat dapat tergelincir.
(Salman Mardira)