Ilmuwan es Universitas Negeri Oregon, Erin Pettit menjelaskan, Thwaites tampaknya runtuh dalam tiga cara, yaitu mencair dari bawah oleh air laut, bagian daratan gletser 'kehilangan cengkeramannya' pada tempatnya menempel di dasar laut, sehingga bongkahan besar bisa lepas ke laut dan kemudian mencair.
Sedangkan kemungkinan ketiga ialah lapisan es gletser pecah menjadi ratusan retakan seperti kaca depan mobil yang rusak. Inilah yang dikhawatirkan Pettit karena akan menjadi yang paling merepotkan dengan retakan sepanjang 10 kilometer yang terbentuk hanya dalam setahun.
Belum ada yang pernah menginjakkan kaki di wilayah permukaan utama di Thwaites sebelumnya. Pada 2019 silam, Wahlin berada dalam tim yang menjelajahi daerah tersebut dari kapal dengan menggunakan kapal robotik namun tidak pernah turun ke darat.
"Thwaites tampak berbeda dari lapisan es lainnya,” kata Wahlin.
“Ini hampir terlihat seperti tumpukan gunung es yang telah ditekan bersama. Jadi semakin jelas bahwa ini bukan es padat seperti rak es lainnya, es padat halus yang bagus. Ini jauh lebih bergerigi dan (seperti) bekas luka," tutupnya.
(Rizka Diputra)