Krisis Kemanusiaan Yaman
Yaman berlokasi di ujung selatan Jazirah Arab, dahulu adalah tempat yang damai dan bahkan sempat menjadi rumah terbesar kedua di dunia bagi pengungsi Somalia. Yaman pernah menampung 135.000 pengungsi dan pencari suaka dari Somalia dan Ethiopia.
Namun, kini Yaman telah berubah menjadi lokasi terjadinya krisis kemanusiaan yang disebut PBB sebagai yang terburuk di dunia.
Berdasarkan data UNHCR, perang enam tahun di Yaman telah memaksa lebih dari 4 juta orang meninggalkan rumah mereka dan menyisakan 20 juta lainnya dalam keadaan yang sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan, jumlah tersebut termasuk 12 juta anak-anak.
Sebelum terjadinya konflik, Yaman sudah menjadi salah satu negara termiskin di Timur Tengah. Kini keadaan jauh semakin memburuk.
Setengah dari fasilitas kesehatan Yaman ditutup atau dihancurkan. Ekonomi Yaman, yang sudah payah sebelum konflik, semakin terperosok.
Ratusan ribu keluarga tidak lagi memiliki sumber pendapatan tetap, dan banyak pegawai negeri tidak menerima gaji tetap selama beberapa tahun.
Kerusakan ekonomi memperburuk krisis kemanusiaan, membawa negara itu ke bencana kelaparan besar-besaran, ada setengah juta orang hidup dalam kondisi kelaparan berat dan setidaknya 16 juta lainnya terancam menghadapi situasi yang sama di tahun ini.
Studi yang dilakukan UNHCR menunjukkan bahwa warga Yaman empat kali lebih berisiko mengalami kelaparan daripada yang lain. Situasi mereka semakin diperparah oleh pandemi virus korona dan wabah penyakit seperti kolera, difteri, campak, dan demam berdarah yang telah lama dapat diatasi di tempat lain di dunia.
UN Humanitarian Office menyatakan perang ini telah mengakibatkan sekitar 233.000 kematian, termasuk 131.000 kematian tidak langsung seperti disebabkan kelaparan dan kekurangan akses layanan kesehatan dan buruknya infrastruktur.
(Kurniawati Hasjanah)