Yuk Intip Negara Paling Miskin di Dunia Arab, 21 Juta Penduduk Butuh Pertolongan

Tim Okezone, Jurnalis
Jum'at 31 Desember 2021 16:04 WIB
Ilustrasi Yaman, Negara Paling Miskin di Dunia Arab (dok Freepik)
Share :

JAKARTA - Yaman menjadi negara paling miskin di dunia Arab alias Timur Tengah.

Yaman, negara yang kini dikuasai oleh milisi Syiah Houthi dukungan Iran itu masih mengalami konflik berkepanjangan.

Melansir Albawaba, total produk domestik bruto (PDB) Yaman hanya sebesar USD23,49 juta pada tahun 2018. Total penduduk negara ini mencapai 29 juta jiwa.

Yaman menjadi bukti terjadinya krisis kemanusiaan akibat konflik berkepanjangan.

Baca Juga:

4 Sumber Penghasilan Pramugari, Nomor Terakhir Kekinian Banget!

Dear Traveler, Ini 5 Cara Mendapatkan Tiket Pesawat Murah Buat Liburan

Berdasarkan catatan, 21 juta penduduknya sangat membutuhkan pertolongan dan bantuan, termasuk 11 juta anak-anak di Yaman.

Akibat konflik, 10 ribu anak-anak menderita cacat dan bahkan tewas terbunuh. Konflik juga menyebabkan kerusakan sekolah dan penutupan instansi pendidikan.

Dampaknya, anak-anak tidak mampu lagi menimba ilmu.

Selain gempuran mesin perang koalisi, blokade yang diterapkan Arab Saudi dan sekutunya terhadap Yaman memicu bencana kemanusiaan, lebih dari 70 persen warga Yaman butuh bantuan.

Konflik di Yaman itu berlatar belakang kegagalan transisi politik dari Presiden Ali Abdullah Saleh ke penggantinya yang juga bekas wakilnya Hadi pada November 2011.

Adapun, berdasarkan data PBB, UNDP, perang yang terjadi sejak 2014 di Yaman membuat 45% masyarakatnya hidup dalam kemiskinan. Angka itu semakin berkembang hingga 75% populasinya hidup miskin di akhir 2019.

Apabila perang terus berlanjut hingga tahun 2022, Yaman sudah dapat dipatenkan menjadi negara termiskin di dunia, bukan hanya di wilayah Arab saja. Hal itu dikarenakan akan ada lebih dari 75% masyarakatnya yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Sementara itu, Bank Dunia memprediksikan ada sekitar 20 juta warga Yaman yang tidak mendapatkan akses air bersih dan 16 juta orang yang membutuhkan bantuan mendesak karena berisiko tinggi menderita kekurangan gizi. Hal ini terjadi akibat kurangnya pangan.

Sebagaimana yang disampaikan UNDP, Bank Dunia juga mengutarakan kemiskinan di negara itu terus memburuk.

Ekonomi Yaman menyusut sekitar 8,5% pada 2020. Apalagi, pandemi Covid-19 juga turut mempengaruhi kegiatan bisnis dan ekonomi di sana. Beberapa komoditas mengalami kelangkaan hingga menyebabkan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Krisis Kemanusiaan Yaman

Yaman berlokasi di ujung selatan Jazirah Arab, dahulu adalah tempat yang damai dan bahkan sempat menjadi rumah terbesar kedua di dunia bagi pengungsi Somalia. Yaman pernah menampung 135.000 pengungsi dan pencari suaka dari Somalia dan Ethiopia.

Namun, kini Yaman telah berubah menjadi lokasi terjadinya krisis kemanusiaan yang disebut PBB sebagai yang terburuk di dunia.

Berdasarkan data UNHCR, perang enam tahun di Yaman telah memaksa lebih dari 4 juta orang meninggalkan rumah mereka dan menyisakan 20 juta lainnya dalam keadaan yang sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan, jumlah tersebut termasuk 12 juta anak-anak.

Sebelum terjadinya konflik, Yaman sudah menjadi salah satu negara termiskin di Timur Tengah. Kini keadaan jauh semakin memburuk.

Setengah dari fasilitas kesehatan Yaman ditutup atau dihancurkan. Ekonomi Yaman, yang sudah payah sebelum konflik, semakin terperosok.

Ratusan ribu keluarga tidak lagi memiliki sumber pendapatan tetap, dan banyak pegawai negeri tidak menerima gaji tetap selama beberapa tahun.

Kerusakan ekonomi memperburuk krisis kemanusiaan, membawa negara itu ke bencana kelaparan besar-besaran, ada setengah juta orang hidup dalam kondisi kelaparan berat dan setidaknya 16 juta lainnya terancam menghadapi situasi yang sama di tahun ini.

Studi yang dilakukan UNHCR menunjukkan bahwa warga Yaman empat kali lebih berisiko mengalami kelaparan daripada yang lain. Situasi mereka semakin diperparah oleh pandemi virus korona dan wabah penyakit seperti kolera, difteri, campak, dan demam berdarah yang telah lama dapat diatasi di tempat lain di dunia.

UN Humanitarian Office menyatakan perang ini telah mengakibatkan sekitar 233.000 kematian, termasuk 131.000 kematian tidak langsung seperti disebabkan kelaparan dan kekurangan akses layanan kesehatan dan buruknya infrastruktur.

(Kurniawati Hasjanah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya