Pagi itu ada sekitar 4 bus lagi di depan kami. Sementara ada 6 bus lainnya di belakang kami. Saya sempat menghitung, jarak satu bus untuk masuk ke pekarangan sekitar 30 menit hingga satu jam.
Selama menunggu, kami tidak diperkenankan untuk turun. Perut yang belum terisi dari penerbangan di Singapura terus meronta-ronta. Kerongkongan saya semakin mengering karena tidak ada air yang bisa saya beli sejak di Bandara.
Sekitar pukul 7 pagi, bus kami baru bisa masuk ke pekarangan Rusun Pasar Rumput. Tapi ternyata penderitaan belum berakhir. Kami belum dibolehkan untuk turun. Menurut Sopir petugas masih mendata penumpang yang busnya masuk kepekarangan lebih dulu dari kami.
Dari jendela bus saya melihat suasana lalu lalang orang-orang yang telah diperbolehkan turun dari bus untuk menuju tempat pendaftaran. Puluhan lainnya ada juga yang bersiap-siap untuk pulang setelah menjalani karantina.
Tiba-tiba seorang anggota TNI masuk ke bus dan menghitung jumlah kami. Ada sekitar 40 orang. Sang petugas itu kemudian menjelaskan beberapa tahapan yang harus kami jalani saat turun dari bus nantinya.
Sebelum mendapatkan jatah pembagian kamar yang disisi 3 orang, kami harus menjalani tes PCR. Hasil tes hanya akan diberitahu kepada mereka yang positif. kami akan menjalani PCR tes kembali pada hari ke 9. Jika Negatif kami baru diperbolehkan pulang.
Petugas itu meminta kami untuk menunggu di bus dan tidak turun sampai pemberitahuan selanjutnya. Bagi yang ingin buang air atau mencari makanan, bisa turun untuk waktu yang dibatasi dengan pengawasan mereka.
Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Empat jam. Giliran kami untuk masuk ke rusun dan melakukan pendaftaran tak kunjung tiba. Azan zuhur dari masjid di belakang rusun telah berkumandang. Sementara perut saya semakin penuh oleh angin karena tak saya isi dari 19 jam lalu.
Baru sekitar jam 2 siang kami semua diperbolehkan turun dari bus untuk menuju tempat pendaftaran. Pos pertama yang kami lewati adalah ruang pengarahan, dimana kami dijelaskan soal prosedur pendaftaran dan diminta mengisi biodata seperti asal negara kedatangan, no HP, dan alamat kami tinggal setelah pulang dari tempat ini.
Pasport kami yang sempat disita sebelumnya dikembalikan untuk proses registrasi ke pos selanjutnya. Sekitar 20 menit kemudian, kami diarahkan menuju ruang tes PCR.
Proses tes tak berlangsung lama. Petugas juga menyerahkan kupon tes PCR untuk nantinya ditunjukkan pada PCR tes hari ke sembilan nanti.
Setelah itu saya harus mencari 2 orang teman, untuk mendapatkan kamar. Kami kemudian melakukan registrasi di ruangan yang tampak padat dengan pendaftar lainnya. Kebanyakan mereka berkerumun.
Tidak ada sosial distancing. Petugas pendaftaran juga menyusun bangku-bangku pendaftaran layaknya situasi normal dan bukan di tengah pandemi.
Beberapa orang yang mengantre bahkan kerap melepas masker mereka. Saya sepuluh kali lebih khawatir tertular covid di tempat karantina ini ketimbang di luar sana. Sekali lagi saya berdoa dalam hati semua saya tak tertular.
Akhirnya tiba giliran kami untuk melakukan pendaftaran mendapatkan kamar. Petugas menanyakan kembali alasan kami satu persatu ke luar negeri, dan memeriksa status vaksinasi kami serta alamat kami setelah keluar dari tempat karantina.