PEREMPUAN punya keunikan yang tak dimiliki kaum laki-laki. Perempuan identik sebagai makhluk pemalu, tapi sulit mengekspresikan diri.
Desainer yang juga Pemerhati Perempuan Nina Nugroho mengatakan, seorang perempuan tidak terlepas dari kepercayaan dirinya yang terbangun dengan baik. Karena perempuan identik sebagai sosok makhluk pemalu.
"Kebanyakan mereka tidak berani menyampaikan buah pemikirannya secara langsung. Apabila dirinya dihadapkan pada sebuah pertanyaan sulit, perempuan juga memilih diam. Ini pun diartikan bahwa mereka setuju dalam berpendapat, padahal tidak," katanya lewat keterangan tertulis.
Nina menambahkan, perempuan seharusnya ada di garda terdepan dalam keluarga. Maka mereka perlu belajar leadership agar berani mengambil keputusan.
"Mengapa leadershipnya, karena skill inilah yang bisa mengangkat perempuan dari privat atau di rumah ke ruang public,” ujar Nina.
Leadership, ujar Nina, ekspresinya bisa bermacam-macam. Bisa dalam bentuk seni, politik, maupun sosial.
Sementara itu, menurut pandangan Aktivis Perempuan Dwi Rubiyanti Kholifah, perempuan dan laki-laki memang berbeda secara fisik emosional dan sebagainya. Tetapi perlakukannya bukan untuk dibedakan.
"Kemampuan yang diberikan Tuhan setara ini seharusnya bisa dijaga dan ditumbuhkan untuk kepentingan keluarga dan untuk kepentingan masyarakat, Namun kenyataannya ini kan masih timpang," ucapnya.
Rubi pun menambahkan "Enggak semua perempuan bisa mengekspresikan itu dan belum bisa menata leadershipnya dengan baik. Karena kadang-kadang masih takut sama suami."
Di sinilah perempuan mengalami krisis percaya diri. Hal itu tidak terlepas dari faktor kemiskinan, literasi dan bermacam kondisi yang menekannya tidak bisa berekspresi.
Sebagai solusi, perempuan perlu dibantu agar lebih terbuka dan mandiri. Senada dengan Nina, Rubi mengatakan bahwa leadership menjadi hal penting.
"Sudah saatnya membantu para perempuan terutama di kalangan akar rumput agar memiliki kemampuan menyampaikan apa yang dia pikirkan, rasakan dan percaya diri untuk berbicara," tutup Rubi.
(Martin Bagya Kertiyasa)