Nuky menunjukkan sebuah lorong bawah tanah dari salah satu rumah. Dulunya, lorong-lorong itu terhubung dengan rumah-rumah lainnya di Laweyan.
Namun, kini banyak dari rumah-rumah itu telah ditutup dan tidak bisa dikunjungi, baik yang menuju sungai maupun rumah-rumah lainnya yang ada di utara.
“Lorong-lorong ini sudah diteliti oleh peneliti dari Inggris, New Zealand dan lain-lain yang mereka tertarik dengan jalur perdagangan opium zaman dahulu di kota Surakarta. Mengutip pakar candu Henri Louis Charles Te Mechelen dalam ‘Opium To Java’ pada tahun 1882 menyebut perbandingan satu dari 20 orang Jawa merupakan pengisap candu,” ujarnya.
“Yang menarik dari kunjungan saya di tempat-tempat ini juga dijaga penunggu tak kasat mata yang mempunyai nama-nama khusus. Hingga banyak orang yang kemudian melakukan tirakat baik di dalam lorong maupun di luar lorong/di dlm rumah ini. Hal ini merupakan fakta-fakta menarik yang menunjukan kehidupan "bawah tanah" masyarakat Jawa zaman dahulu.”
(Salman Mardira)