“Semua bangkai kapal seperti kapsul waktu yang tidak disentuh makhluk hidup. Ini adalah kegembiraan besar bagi saya sebagai orang yang terlibat dalam profesi kelautan dan arkeologi," tambahnya.
Menunjukkan bahwa bidang minat utama arkeologi bawah air berkaitan dengan kapal, Özdaş melanjutkan: "Dalam kerangka ini, kami adalah ilmuan yang mengumpulkan data tentang sejarah teknologi. Misalnya, penggalian kami di kapal karam membantu menyelesaikan halaman yang hilang dari teknologi pembuatan kapal," sebutnya.
Profesor itu juga mengatakan bahwa dia bekerja untuk memotret bangkai kapal bawah laut dan membuat mosaik foto sebagai bagian dari Proyek Inventarisasi Kapal Karam. Menurutnya, peneliti tidak punya banyak waktu untuk berada di bawah air karena kondisi cuaca dan lokasi ditemukannya kapal karam.
"Karena kapal tidak tenggelam di tempat yang mudah untuk diselami, kami bisa melakukan tiga kali penyelaman untuk setiap bangkai kapal," ungkap Özdaş.
Baca juga: Pecahkan Misteri Peradaban Kuno, Arkeolog Teliti Artefak Berusia 4.000 Tahun
(Foto: Daily Sabah)
Ditemukan di kedalaman 70-80 meter
Özdaş juga menggarisbawahi bahwa mereka telah mengidentifikasi sejumlah besar kapal milik kekuasaan Ottoman, terutama di provinsi Aegean Turki Izmir serta wilayah Aegean tengah dan utara.
"Peneliti Turki telah menemukan bangkai kapal di kedalaman 70-80 meter dengan sistem kamera yang dikendalikan dari jarak jauh," tambahnya.
"Mereka berasal dari abad ke-16 atau lebih, yaitu pada masa kekuasaan Ottoman. Bagi kami, yang paling penting di antara mereka adalah Bangkai Kapal Kepulauan Koyun (Oinousses)," kata dia.
Penemuan kapal pertama di lepas pulau ini adalah pada tahun 2018. Pada tahun 2019, para peneliti melakukan penelitian bawah laut terdalam di area arkeologi dengan kapal Alemdar, yang berafiliasi dengan Komando Angkatan Laut Turki.