BICARA soal kekayaan budaya, Tana Toraja menjadi salah satu yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Indonesia. Bagi yang ingin mempelajari atau sekadar menyaksikan warisan budaya dari suku yang berasal dari Sulawesi Selatan itu, mengunjungi Desa Kole Sawangan ialah jawaban tepat.
Betapa tidak, desa ini menjadi salah satu daerah yang menyimpan kekayaan adat dan budaya Toraja secara lengkap. Penasaran? Berikut ini MNC Portal Indonesia sajikan ulasannya!
Lokasi dan rute akses
Desa Kole Sawangan terletak di Kecamatan Malimbong Balepe’, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Apabila ingin berkunjung ke Desa Kole Sawangan, bisa menggunakan pesawat dan turun di Bandar Udara Toraja,
Sesampainya di bandara, kurang lebih membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk bisa sampai di desa yang terletak di kaki Gunung Sado'ko ini yang dapat ditempuh dengan perjalanan darat.
Tongkonan jadi daya tarik wisata
Kekuatan adat dan budaya menjadi daya tarik utama dari Desa Wisata Kole Sawangan. Seperti kawasan Toraja pada umumnya, di desa wisata ini wisatawan bisa menemui deretan Tongkonan atau rumah adat orang Toraja yang indah nan megah. Adapun Tongkonan merupakan rumah panggung tradisional masyarakat Toraja berbentuk persegi empat panjang.
Baca juga: Pariwisata Solusi Kebangkitan Ekonomi Tana Toraja, Menparekraf Dukung Percepatan Vaksinasi Covid-19
(Foto: Kemenparekraf RI)
Namun keistimewaan Tongkonan di Desa Kole Sawangan adalah wisatawan dapat melihat salah satu Tongkonan tertua di Toraja!. Tongkonan tersebut awalnya dibangun pada tahun 1200 dan beratap batu. Namun pada tahun 1939, Tongkonan tersebut terbakar lantas baru dipugar 7 tahun kemudian.
Melalui Tongkonan tersebut, wisatawan akan mendapatkan gambaran betapa bersahajanya masyarakat Toraja yang sangat menghormati budaya leluhur.
Selain sebagai tempat tinggal, Tongkonan juga memiliki peranan kuat sebagai tempat rumpun keluarga dalam melaksanakan upacara-upacara yang berkaitan dengan sistem kepercayaan, sistem kekerabatan, dan sistem kemasyarakatan.
Puas menyusuri bagian dalam, di bagian depan Tongkonan tertua tersebut wisatawan bisa melihat deretan tanduk kerbau yang terpajang. Tanduk kerbau itu merupakan simbol bahwa pemilik rumah adalah tuan yang sudah melakukan upacara rambu solo’ yaitu sebuah upacara pemakaman secara adat atau pesta sebagai tanda penghormatan terakhir kepada mereka yang telah meninggal dunia.
Baca juga: Kunjungan Kerja ke Kole Sawangan Tana Toraja, Sandiaga Uno: Desa Wisata Buka Lapangan Kerja
(Foto: Kemenparekraf RI)
Tak hanya itu, di Desa Wisata Kole Sawangan juga terdapat kuburan batu Saluliang. Ini juga merupakan salah satu kuburan batu tertua di Toraja yang berdiri sejak tahun 1215 dan masih digunakan sampai saat ini!. Batu-batu besar yang berjejer mengikuti kontur tanah itu dilubangi dan dipahat menjadi liang kubur.
Kuburan batu ini memiliki liang terbanyak dari semua kuburan batu yang ada di Toraja yakni sebanyak 107 buah. Saluliang juga merupakan tempat pemujaan leluhur aluk todolo. Aluk Todolo sendiri merupakan agama leluhur nenek moyang suku Toraja.