Desa Wisata Ngilngof pun juga memiliki event tahunan, yaitu Festival Pesona Meti Kei. Dalam acara tersebut ada pagelaran tarian, musik, festival layang-layang, dan lampion. Lalu ada Tour De Mollucas, yang merupakan kegiatan olahraga berbasis pariwisata.
Saat visitasi ke Desa Wisata Ngilngof, Sandiga juga menyaksikan Festival Meti Kei yang sedang berlangsung. Ia juga turut bernostalgia bermain basket bersama Bupati saat melihat area sport centre.
Tak lengkap rasanya jika desa wisata tidak memiliki produk ekonomi kreatif. Di Desa Wisata Ngilngof sendiri punya makanan khas yaitu Embal Pisang yang terbuat dari pisang masak yang dibalut dengan tempung embal (tepung yang terbuat dari singkong beracun yang telah diproses).
Ada juga Kasbi, yang merupakan makan khas Maluku terbuat dari singkong yang direbus menggunakan air santan kelapa.
Untuk kriyanya, desa wisata ini punya aksesoris khas yang terbuat dari limbah kerang, seperti lampu dari kerang, cermin, dan figura. Serangkan fesyennya, desa ini memiliki baju adat beniang, anyaman tas dari limbah sampah, dan sandal.
Dengan sejumlah potensi yang dimiliki oleh Desa Ngilngof, Sandiaga berharap Desa Wisata itu dapat menjadi best practice bagi desa-desa wisata lainnya untuk tetap terus berkembang, meningkatkan perekonomian lokal, dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat di masa depan.
Oleh karena itu agar meningkatkan semangat dan kreativitas warga Ngilngof dalam mengembangkan potensi wisata alam di Desa Wisata Ngilngof, Sandiaga memberikan bantuan berupa 30 lampu LED beserta alasnya, 30 lampu sorot pantai, kabel listrik, kawat pengait, dan pipa paralon pelindung lampu.
“Ada beberapa permintaan dari teman-teman Desa Ngilngof, maka kita berikan. Karena Ngilngof kurang lampu jadi kita berikan lampu dengan kabelnya lengkap. Mudah-mudahan bisa bermanfaat,” ujarnya.
(Salman Mardira)