KITA wajib memastikan kemasan pangan aman untuk digunakan. Sebab selama ini banyak plastik kemasan pangan yang disinyalir mengandung Bisphenol A (BPA) yang disebut berbahaya bagi usia rentan yaitu, bayi, balita dan janin pada ibu hamil.
Edukasi masyarakat secara mengenai bahaya BPA terus digaungkan agar masyarakat sadar.
Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Nia Umar mengatakan, resiko BPA sudah lama dibahas di beberapa negara Eropa. Namun, di Indonesia gaungnya belum terlalu luas.
“Dengan dialog ini kita berharap bisa mengangkat kesadaran masyarakat bahaya BPA bagi kesehatan, serta mengajak pemerintah mengatur regulasi ini,” kata Nia Umar.
Nia mengatakan, banyak botol susu bayi mengandung BPA, seperti halnya gelas plastik, peralatan makan, dan lapisan sebagian besar kaleng dan kaleng makanan dan minuman.
Menurut Nia, pemanasan berulang dari plastik polikarbonat dapat menyebabkan ‘larutnya’ BPA ke dalam pangan. Bagi bayi yang diberi makan secara artifisial dapat menelan BPA dosis ganda, mulai botol susu dan dari lapisan timah kaleng susu ke dalam susu bubuk yang dikonsumsi anak.
“BPA berbahaya ketika ada pemanasan berulang dari plastik. Jadi, memang BPA ini problematis karena ada dimana-mana. Di Eropa, barang mengandung BPA sudah jelas tidak boleh sama sekali. Tidak hanya di botol dot bayi, tetapi juga di wadah makanan,” katanya.
“Perlu ada aturan yang tegas tentang BPA, dan BPOM perlu mengkaji ulang regulasinya,” tutup Nia.
Dokter Spesialis Anak, sekaligus anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Irfan Dzakir Nugroho menambahkan, saatnya Indonesia memiliki regulasi terkait BPA. Pasalnya, di Eropa beberapa negara sudah menerapkan regulasi BPA.
Menurut Dokter Irfan Dzakir, bahwa toksisitas BPA sudah menjadi perhatian, terutama di negara-negara Eropa dan Amerika. Toksisitas BPA menimbulkan berbagai penyakit.
“Efeknya sangat luas di berbagai kelompok. Sudah banyak studi yang membuktikan hal tersebut, dan untuk mencegahnya dibutuhkan regulasi preventif yang menjauhkan masyarakat dari bahaya BPA,” tambahnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)