Penjarahan dari museum Irak
Suatu kala ketika Perang Teluk berkecamuk pada 1991, Tablet Mimpi Gilgamesh dijarah dari sebuah museum di Irak.
Selama belasan tahun, nasib tablet itu tak tentu rimbanya.
Hingga akhirnya pada 2003, ketika seorang pedagang barang antik membelinya dari seorang penjual koin di London, dalam kondisi berdebu dan tak bisa dibaca.
Pedagang barang antik itu kemudian mengirim tablet Gilgamesh ke AS via pos internasional tanpa disertai surat-surat resmi.
Setibanya di AS, seorang pakar tulisan paku mengenalinya sebagai bagian dari epos Gilgamesh.
Pada 2007, sang pedangan barang antik menjual tablet itu ke pembeli lain dengan surat palsu, yang menyebut bahwa artefak itu berada di sebuah kotak pecahan pecahan perunggu kuno yang dibeli pada tahun 1981.
Petualangan tablet itu berlanjut dalam lelang satu ke yang lain di berbagai negara, sebelum dibeli oleh Hobby Lobby, perusahaan seni dan kerajinan dengan etos Kristen konservatif, pada 2014.
Perusahaan membelinya seharga lebih dari US$1,67 juta, atau setara Rp23,8 miliar, kemudian memajangnya di Museum of the Bible milik perusahaan itu di Washington DC.
Kontroversi
Pada 2017, Hobby Lobby dikenai denda jutaan dolar karena memberi label palsu pada artifak dari Irak yang dimiliki museumnya.
Artifak-artifak itu diselundupkan ke AS melalui Uni Emirat Arab dan Israel, dengan label pengiriman yang mengeklaimnya sebagai paket berisi "ubin keramik".
"Perusahaan baru mengenal dunia akuisisi barang-barang ini, dan tidak sepenuhnya memahami kerumitan proses akuisisi. Ini menyebabkan beberapa kesalahan yang disesalkan," kata Hobby Lobby saat itu.
Pada tahun yang sama, seorang kurator di museum mulai meneliti asal-usul Tablet Mimpi Gilgamesh. Museum juga memberi tahu pemerintah Irak bahwa barang itu ada di tangannya.