BADAN Kesehatan Dunia (WHO) meminta agar negara-negara tidak memprioritaskan pemberian vaksin booster secara bebas karena masih ada negara yang belum mendapat jatah vaksin Covid-19. Bahkan, dengan pemberian booster, akan terjadi situasi yang lebih mengerikan.
"Kami prihatin ada negara maju yang membiarkan ingin tetap memberikan vaksin booster, sedangkan mereka membiarkan negara berkembang tidak menerima vaksin karena stok dipakai untuk vaksin booster. Ini yang kemudian mendorong terciptanya varian baru, seperti varian Delta," kata dr Soumya Swaminathan, Kepala Ilmuwan WHO, di pertengahan Agustus.
Keyakinan Swaminathan dan rekan-rekannya jelas bahwa untuk saat ini vaksin booster belum diperlukan masyarakat umum. "Beda ketika bicara mengenai orang dengan masalah kekebalan tubuh lemah yang terbukti memerlukan booster," tegasnya.
Indonesia sendiri menggunakan vaksin booster Moderna hanya untuk tenaga kesehatan yang berhadapan langsung dengan virus SARS-CoV2 penyebab Covid-19. Kementerian Kesehatan yakin betul bahwa penggunaan vaksin booster hanya untuk kelompok nakes, bukan yang lainnya. Termasuk pejabat pemerintah.
Kemudian, jika WHO merasa saat ini masyarakat umum belum membutuhkan vaksin booster, mengapa ide ini muncul terlebih ada penelitian yang mengungkapkan bahwa setelah beberapa bulan pasca-suntikan dosis lengkap kekuatan antibodi mulai melemah? Seberapa penting vaksin booster tersebut?
Baca Juga : Kemenkes: Vaksinasi "Boster" untuk Masyarakat Masih Perlu Dikaji Lebih Lanjut
Mengacu pada data yang dipaparkan The Guardian, data awal menunjukkan bahwa orang mengalami penurunan tingkat antibodi pelindung berminggu-minggu atau berbulan-bulan pasca-suntikan dosis lengkap, khususnya akibat paparan varian Delta yang sangat menular. Namun, tidak jelas mengenai tingkat antibodi atau 'alat lain dalam persenjataan sistem kekebalan' yang memberikan kekebalan protektif.
"Yang penting dipahami adalah tingkat antibodi atau tentara sistem kekebalan lainnya, seperti sel-T, masih tetap diperlukan untuk melindungi tubuh dari Covid-19, terutama dalam mencegah terjadi penyakit serius atau kematian," terang laporan yang disusun pada 19 Agustus 2021 tersebut.
"Jika itu dapat diukur dengan pasti, lalu laboratorium membenarkan bahwa terjadi penurunan yang sangat signifikan pada antibodi setelah berupaya melawan varian baru, baru kemudian akan ada kasus yang jelas untuk pemberian vaksin booster," tambah laporannya.