“SAYA sering memarahi anak saya. Saya membentak dia dengan nada yang tinggi hingga akhirnya dia menangis. Saya berpikir dengan begitu dia akan takut kepada saya dan lebih menurut.” Begitulah pengakuan Esteviani (30) salah satu orang tua dalam mendidik anaknya.
Esteviani mengikuti pelatihan Pengasuhan Dengan Cinta (PDC) yang dilakukan oleh tokoh agama bersama Wahana Visi Indonesia (WVI) di Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Selama sesi pelatihan ibu dari Chila (8) dan Chira (3) teringat hal-hal yang pernah dilakukan kepada anaknya dan merasa bersalah.
“Sungguh, saat itu saya tidak merasa bersalah justru sebaliknya saya merasa senang dan berpikir sudah melakukan hal yang benar sebagai orang tua untuk mendidik anaknya dengan baik. Saya juga menganggap bahwa jika anak-anak salah, kami sebagai orang tua harus memarahinya. Kalau tidak dimarah, dicambuk, anak-anak akan semakin nakal,” ujarnya mengenang kejadian tersebut.
Esteviani juga menceritakan bahwa sikapnya itu disebabkan oleh didikan yang diterimanya di masa lalu, bahkan lebih keras.
“Saya ingat bagaimana papa saya mencambuk saya dengan sapu lidi karena saya terlambat pulang ke rumah karena asyik bermain dengan teman-teman, cambukan papa pada kaki dan tangan saya masih membekas hingga kini. Bukan hanya itu, saya juga sering dimarahi dengan kata-kata yang kasar," kenangnya.
Ia pun berkomitmen mengubah pola pengasuhannya agar anak-anaknya tumbuh lebih optimal. Ia sadar apa yang dilakukannya kepada anak-anaknya selama ini tidak tepat karena dapat menimbulkan bahaya bagi anak baik mental maupun fisik.
“Sekarang saya sudah mulai memberikan ruang kepada anak-anak saya untuk mereka berbicara, mendengarkan kemauan mereka, mengapresiasi apa yang sudah mereka lakukan. Saya mencoba untuk mempraktikkan apa yang saya pahami ketika mengikuti PDC," tutur dia.
"Saya juga mulai meminta maaf ketika saya melakukan kesalahan. Saya pikir hubungan kami jadi lebih akrab dan saya terharu karena anak-anak berani untuk meminta maaf jika salah.” ungkapnya.