“Hepatitis B, C, dan D ditularkan secara parenteral artinya bisa lewat sentuhan, cairan. Penularannya bisa melalui ibu ke anak, tenaga kesehatan yang merawat pasien hepatitis, aktivitas seksual tidak aman, tindik dan tato, penggunaan alat pribadi secara bergantian, dan penggunaan jarum suntik yang tidak steril,” terang dr. Sit, dalam temu media ‘Peringatan Hari Hepatitis Sedunia 2021’, Rabu (28/07/2021).
Lebih lanjut dr. Siti menjelaskan bahwa secara vertikal, penularan hepatitis B dari ibu ke anak sebesar 90-95%. Oleh sebab itu kegiatan deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil harus menjadi prioritas. Selain itu perlu diketahui bahwa hepatitis B sangatlah berbahaya. Sebab saat ini tidak ada obat yang bisa menyembuhkan hepatitis B.
“Vaksinasi telah menurunkan prevalensi hepatitis B dan saat ini belum ada pengobatan yang efektif. Jika dibiarkan hepatitis B bisa menyebabkan karier kronik seperti sirosis hati dan hepatoma," jelas dia.
"Berbeda dengan hepatitis C yang bisa diobati menggunakan pengobatan DAA (Direct Acting Antiviral) yang memiliki persentase kesembuhan mencapai 95%. Sayangnya hingga saat ini belum ada vaksin untuk mencegah hepatitis C,” tuntasnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)