Farid mengatakan kalau warung soto yang telah ada sejak 20 tahun yang lalu ini hanya buka di hari senin sampai sabtu, dan di sore hari. Jadi, hidangan ini memang biasanya untuk makan malam. Tentunya isi dari sotonya seperti kaki sapi, kikil, kentang, tomat, dan beberapa pelengkap lainnya. “Tapi ini dia kuahnya kuah santan, bukan kuah bening, ini yang membuat gue lebih suka,” ucap Farid.
Kita juga bisa melengkapi sotonya dengan emping, acar, atau sambal yang tersedia di meja. “Nah sambelnya dia agak sedikit beda, warna merahnya tuh agak gelap, enggak kayak warna sambel soto pada biasanya,” ujar Farid. Untuk satu porsinya pun harganya terjangkau, sekitar Rp20-Rp25 ribuan saja.
Mau tahu gimana kelanjutan cerita mereka? Dengarkan selengkapnya hanya di Podcast Jajan Sejarah eksklusif di RCTI+.
(Martin Bagya Kertiyasa)